Thursday, November 19, 2009 | 13:08
Al-Quran | Hadist Tashawwuf | Renungan

oleh : Wawan TBH

Sahabats…
Pembahasan tentang takdir (qodho dan qodar) adalah sangat penting untuk membekali kita menjalani kehidupan ini. Kematangan kita dalam hidup ini sangat dipengaruhi oleh kesempurnaan keimanan kita terhadap takdir yang merupakan rukun ke-6 dari Rukun Iman.
Kami meyakini bahwa terdapat tahapan yang saling berkaitan dalam rukun-rukun dalam Rukun Iman tersebut.

Kesempurnaan iman kita terhadap Allah akan menentukan keimanan kita terhadap Malaikat-malaikat-Nya. Kesempurnaan iman kita terhadap Malaikat-Nya akan menentukan keimanan kita terhadap Kitab-kitab Suci-Nya. Kesempurnaan terhadap Kitab Suci-Nya menentukan kesempurnaan keimanan kita terhadap Para Rasul-Nya. Kesempurnaan keimanan kita terhadap Para Rasul-Nya menentukan kesempurnaan keimanan kita terhadap Hari Akhir-Nya. Dan kesempurnaan keimanan kita terhadap Hari Akhir-Nya menentukan keimanan kita terhadap Qodho dan Qodar-Nya (Takdir Allah)

Mengingat urutan tahapan di atas, kita tahu betapa kompleksnya persyaratan kesempurnaan iman kita terhadap takdir. Hal ini memerlukan mantapnya keimanan kita terhadap ke lima rukun sebelumnya dalam Rukun Iman.
(selanjutnya…)

Saturday, November 14, 2009 | 14:01
Nasihat | Renungan

Sahabats…

Setelah pada osting sebelumnya kami copykan biografi Syekh Al-Akbar Muhyiddin Ibnu Al-Arabi, kali ini kami mengetik ulang sebuah wasiat beliau untuk kita renungkan, semoga bermanfaat.
Kami mengetik ulang dari Buku Wasiat-Wasiat Ibnu ‘Arabi (terjemahan dari Al-Washaya li Ibnu al-’Arabi oleh Irwan Kurniawan) terbitan Penerbit PUSTAKA HIDAYAH Bandung, cetakan ke-2 tahun 1997.

*****)(*****

Tuhan berwasiat, demikian pula para utusan Tuhan.
Karenanya, meneladani mereka adalah sebaik-baik perbuatan.

Andai tiada wasiat, makhluk berkubang dalam kegelapan.
Dengan wasiat, raja kekal dalam kekuasaan.

Lakukanlah, jalan itu jangan kau tinggalkan.
Wasiat adalah hukum Allah dalam keazalian.
(selanjutnya…)

Wednesday, November 11, 2009 | 23:02
Kisah Sufi | Pejuang Din Al-Islam

Sahabat-sahabat yang baik…,
Belajar dari kehidupan seorang kekasih Allah tentu akan mendatangkan berkah dan manfaat yang banyak bagi kita. Untuk tujuan itulah kami ketengahkan copy paste tulisan Syeikh Idries Syah tentang seorang Waliyullah, Syeikh Al-Akbar Muhyiddin Ibnu Al-’Arabi, yang menurut kami merupakan salah satu tulisan yang paling baik dalam menggambarka sosok Syeikh Al-Akbar.

Naskah ini kami peroleh dari e-Book “Mahkota Sufi” karya Syeikh Idries Syah yang kami peroleh dari Sahabat Kuswandani.
Ternyata tulisan ini juga ada pada
http://media.isnet.org/sufi/Idries/Mahkota/Arabi.html.

Kami sangat berterimakasih kepada sahabat Kuswandani, serta semua pihak yang telah membantu sehingga kami memperoleh tulisan ini. Semoga Allah senantiasa membalas kebaikan sahabat-sahabat semuanya.

oo)(oo

“Bagi pendosa yang jahat, aku mungkin terlihat jahat. Tetapi bagi yang baik - - betapa luhurnya aku.”
(Mirza Khan, Anshari)

Salah satu pengaruh metafisis paling mendalam terhadap dunia Muslim maupun Kristen adalah ajaran Ibnu Arabi as-Sufi, dalam bahasa Arab disebut asy-Syekh al-Akbar (Mahaguru). Ia keturunan Hatim ath-Tha’i, yang masih termasyhur di kalangan bangsa Arab sebagai laki-laki paling dermawan yang pernah dikenal dan dalam Ruba8iyat versi FitzGerald disebutkan, “Ijinkan Hatim ath-Tha’i berseru: Pesta! “Jangan hiraukan dia!” (maksudnya karena terlalu seringnya menjamu orang¬orang lain).

Spanyol telah menjadi negeri Arab selama lebih dari empat abad ketika Ibnu Arabi (dari) Murcia dilahirkan pada 1164. Diantara nama-namanya adalah al-Andalusi, dan tidak diragukan dia lah salah satu tokoh terbesar dari beberapa tokoh besar Spanyol yang pernah hidup. Secara umum diyakini bahwa tidak ada puisi cinta yang lebih besar dari karyanya; dan tidak ada seorang Sufi yang begitu mendalam menarik perhatian para teolog ortodoks dengan makna batin dari kehidupan dan karyanya.
(selanjutnya…)

Friday, November 6, 2009 | 10:06
Tashawwuf Dalam Kehidupan Kita | Renungan

oleh : Wawan TBH

Pembicaraan tentang lebih dulu mana antara doa dan ikhtiar seorang manusia dalam kehidupannya menjadi topik yang hangat di kalangan santri di Padepokan Tashawwuf, sehingga ketika ada suatu kesempatan bercengkrama dengan Sang Guru Bijak Bestari, salah seorang santri menanyakannya kepada Sang Guru.

Santri: Guru, dalam menghadapi suatu masalah, manakah sikap yang sebaiknya kita ambil, berikhtiar dulu semampu kita lalu menyempurnakannya dengan berdoa? Ataukah Berdoa dulu dengan keyakinan kemudian dilanjutkan dengan ikhtiar kita?

Guru:Pertanyaan yang bagus anakku… Memang dalam sejarah hidup manusia, pertanyaan itu senantiasa muncul di kalangan umat, namun ketika seseorang sudah mencapai kesempurnaan dalam hikmah kehidupan, niscaya dia akan mengerti tentang persoalan tersebut dengan segala variasinya.
Anakku, sebenarnya kedua sikap itu sama-sama benar, hanya saja masing-masing memiliki sebab dan kondisi yang berbeda yang Allah paksakan supaya kita melakukan itu.

Ketika kita berada pada kondisi kesadaran bahwa kemampuan kita ini yang merupakan ‘pinjaman serta titipan’ dari Kemampuan Allah yang hendaknya kita gunakan secara optimal untuk menyelesaikan permasalahan kita, maka kita akan bersikap mengupayakan ikhtiar dulu secara optimal, baru setelah itu menyempurnakannya dengan doa. Kita saat itu menyadari bahwa sempurnanya doa kita memerlukan syarat ikhtiar dulu. Maka kita akan berusaha sekuat tenaga kita untuk berikhtiar dulu baru kemudian berdoa.

Sementara pada kondisi yang lain, ketika pengenalan kita terhadap Allah yang melingkupi semua aspek Af’al (Perbuatan-perbuatan), Asma (Nama-nama), Shifat (Sifat) serta Dzat-Nya sedang menguat sedemikian sehingga menyebabkan kita menyadari dan meyakini bahwa ternyata Wujud Dia-lah satu-satunya sumber dari segala daya dan kemampuan di semesta alam ini, termasuk kemampuan kita awalnya berasal dari pelimpahan Kemampuan dari-Nya, maka sebuah doa yang kita lantunkan dengan keyakinan tinggi, merupakan awal dari ikhtiar kita dalam kehidupan.

Di sini, sempurnanya doa kita bersumber dari kesadaran akan posisi kita sebagai ciptaan yang lemah tanpa daya, berhadapan dengan Dia Sang Pencipta yang Maha Rahman, Pemelihara yang sempurna.

Santri: Lalu bagaimana caranya kita bisa mengetahui kita sedang berada pada kondisi yang mana dari kedua hal di atas Guru?
(selanjutnya…)

Tuesday, October 27, 2009 | 16:18
Renungan

oleh : Wawan TBH

Suatu sore di Padepokan Kehidupan, Sang Guru Bijak Bestari sedang bercengkrama dengan santri-santrinya, tiba-tiba salah seoang santri mengajukan pertanyaan,

Santri: Guru, Apa konsekuensi dari kesadaran kita tentang Struktur Insan?

Guru: Pertanyaan yang bagus anakku, memang kita sebagai makhluk yang paling berpotensi menjadi makhluk termulia, segala perilaku kita tergantung dari kesadaran. Nah, kesadaran tentang Struktur kita sebagai Insan ciptaan Allah, serta dengan tujuan apa Allah menciptakan kita akan menjadi visi dan melandasi aktivitas hidup kita.

Anakku, Allah menciptakan kita sebagai makhluk multi dimensi, lahir maupun batin. Dalam diri kita ini Allah tempatkan penghuni alam Jabarut yaitu ruh, nafs sebagai penghuni alam Malakut, serta jasad dari alam Mulk.Baik ruh, nafs, maupun jasad masing-masing dengan seluruh perangkat aspeknya. Sebagai makhluk multialam, seandainya kita hidup sesuai dengan Kehendak-Nya, Insya Allah Dia Ta’ala juga memberikan kemampuan komunikasi lintas alam-alam tersebut.

Santri: Apakah ketiga alam tersebut setara ataukah memiliki perbedaan?
(selanjutnya…)