Wednesday, June 17, 2009 | 14:49
Kisah Sufi | Pejuang Din Al-Islam

Sahabats…

Kita kaum muslimin pasti sudah pernah atau bahkan sering mendengar nama Imam Al-Ghazali yang kitab IHYA ULUMUDDIN -nya sangat terkenal itu.

Nah, marilah kita mengenal lebih jauh beliau, kami dibantu dengan adanya halaman ini.

Semoga keikhlasan, ilmu & hikmah beliau Allah mudahkan menyinari qalbu kita…amien.

| 14:32
Nasihat | Al-Quran | Hadist Tashawwuf | Buku Tashawwuf

Dinukil dari IHYA ULUMUDDIN karya Imam Al-Ghazali, terjemahan Ahmad Rofi’ Usmani jilid 3 hal 135-137

Sahabats…
Marilah kita sama-sama merenungkan hadist dan atsar berikut….

Nabi SAW bersabda, ” Barangsiapa yang membaca Al-Quran, kemudian berpendapat bahwa ada sesuatu karunia yang lebih utama dari pada yang dikaruniakan kepadanya tersebut, ia telah meremehkan apa yang telah diagungkan oleh Allah SWT.”(HR Thabrani)

Nabi SAW bersabda, ” Tiada yang memberi syafaat, baik nabi, malaikat, maupun lainnya, yang kedudukannya lebih utama di sisi Allah SWT dari pada Al-Quran.”(HR Thabrani)

Nabi SAW bersabda,” Andaikan Al-Quran berada di dalam kulit yang tidak disamak, niscaya ia tidak akan disentuh api.” (HR Thabrani)

Nabi SAW bersabda,” Ibadah umatku yang paling utama ialah membaca Al-Quran.” (HR Abu Na’im)

Nabi SAW bersabda,” Sungguh, Allah SWT membaca surah Thaa-ha dan surah Yaa-sin sebelum Ia menciptakan makhluk seribu tahun setelahnya. Maka ketika para malaikat mendengarkan Al-Quran, merekapun berkata, ‘Berbahagialah qalbu yang menghafalkan ini ! Berbahagialah lidah yang bertutur dengan ini !’ “ (HR Ad-Darimi)

Nabi SAW bersabda,” Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR Bukhori)
(selanjutnya…)

Friday, June 12, 2009 | 14:15
Nasihat | Hadist Tashawwuf

oleh Wawan TBH

Sahabats…
tidak terasa, kita telah berada di paruh kedua Jumadil Tsani yang artinya beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Rajab, salah satu dari 4 bulan yang Allah muliakan (haram). Tiga bulan haram lainnya adalah Dulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Untuk belajar memuliakan bulan-bulan yang Allah dan Rasul-Nya muliakan, saya kutipkan di bawah ini hadist-hadist tentang Bulan Rajab dari buku “Keaguangan Rajab dan Sya’ban” karya Abdul Manan bin Haji Muhammad Sobari, Penerbit Republika, 1992.

Rasulullah SAW bersabda,: “Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah, dan Sya’ban adalah bulanku, serta Ramadhan adalah bulan ummatku.” (Duratun Nashihin 1: 163)

Rasulullah SAW bersabda,:“Apabila telah datang hari Kiamat, maka ada suara memanggil: ‘Dimana para ahli Rajab?’
Maka memancarlah sinar, kemudian disusul oleh para malaikat yang diikuti pula oleh para ahli Rajab, dan mereka semua melewati Shirathal Mustaqim bagaikan halilintar yang menyambar. Selanjutnya mereka sujud kepada Allah karena bersyukur telah melintasi Shirathal Mustaqim.
Maka Allah SWT berfirman:” Wahai para ahli Rajab, angkatlah kepalamu pada hari ini sebab kamu sekalian telah bersujud di dunia pada bulan-Ku (Rajab). Pergilah kalian ke tempatmu masing-masing.”
(Duratun Nashihin 1: 165-166)
(selanjutnya…)

Monday, June 8, 2009 | 15:35
Renungan

oleh: Wawan TBH

Dalam sebuah majelis, seperti biasanya Sang Guru Bijak Bestari dikerumuni santri-santrinya…

Guru : Anak-anakku yang tersayang, tahukah kalian cara Allah Rabbul ‘alamiin ini mengekspresikan ayat-ayat/kitab-Nya?

Santri : Tidak, wahai guru…mohon Guru menjelaskan kepada kami..

Guru : Ketahuilah anak-anakku, sesungguhnya Allah menjelaskan kita/ayat-ayatnya itu dalam 3 bentuk. Pertama, kitab Insaniyyah, kitab/ayat-ayat-Nya yang berupa diri kita yang utuh, meliputi ruh-nafs/jiwa dan raga/ jasad).
Di dalam struktur diri kita ini, jika kita dapat membacanya dengan akurat, kita bisa menyaksikan ayat-ayat(tanda-tanda) yang sangat jelas dari-Nya.

Guru : Kedua, kitab Kauniyyah (Penciptaan), Allah juga mengekspresikan ayat-ayat-Nya dalam bentuk semesta alam ciptaan ini. Mulai dari yang dapat diinderai (empirikal), hingga yang super inderawi (misalnya: alam jin, alam malakut/malaikat, dsb.)

Guru : ketiga, kitab Quraniyyah, segala kebenaran yang tertuang dalam kitab-kitab Suci (kitab pewahyuan Ilahi), seperti: Taurat, Zabur, Injil, Al-Quran. Demikian juga Kitab-kita yang diilhamkan kepada para orang-orang Suci, kekasih Allah.

Seorang pembaca kitab yang ‘mengerti’ tentu, tidak hanya bisa membaca salah satu jenis kitab saja, tetapi dia pun mampu membaca segala bentuk ekspresi dari ayat-ayat-Nya.
Bahkan dia tidak akan berhenti sampai pada ayat-Nya saja, tetapi dia akan mengingat dan berusaha mengenal karakter Sang Penulis.
(selanjutnya…)

Monday, May 18, 2009 | 17:40
Renungan

oleh Wawan TBH

Sahabats…
hidup adalah perjuangan untuk mengenal-Nya
mengenal af’al-af’al (perbuatan-perbuatannya)-Nya, agar kita dapat menirunya dengan menghapus ‘Maha’-Nya
mengenal shifat-shifat-Nya, agar Dia berkenan melebur kita ke dalam shifat-Nya
mengenal asma-asma-Nya, agar kita fana dalam asma-Nya
mengenal nafs (jiwa) kita sebagai salah satu ciptaan-Nya yang sempurna
mengenal jasad (raga) kita sebagai pintu gerbang mengenal nafs kita
(selanjutnya…)

Saturday, May 16, 2009 | 14:41
Renungan

oleh Wawan TBH dan Tim Mentor Yayasan Islam Paramartha

Sahabats, mari kita renungkan sejenak pembahasan di seputar topik Ad-Diin—Shirat al-Mustaqiim—al-Haqq, yang dikaitkan dengan “jalan kembali” dalam rangkaian Syariat, Thariqat, Haqiqat, Ma’rifat.
Kita akan menggunakan ayat QS Thaahaa [20]: 82 untuk memulai pembahasan.

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap dalam petunjuk-Nya” (QS. 20:82)

Terlihatlah pada rangkaian istilah-istilah pada ayat tersebut bahwa bila kita ingin menjadi seorang yang “ahtada” (terpimpin, terpandu, terbimbing, tertunjuki), maka kita dituntut amal-shaleh, yang amal-shaleh itu haruslah kita lakukan dengan cahaya keimanan(nur iman) yang Allah al-Mu’min limpahkan kepada qalb kita, yang untuk memperolehnya kita mesti bertaubat sepenuhnya kepada Tuhan.

Terpimpin atau tertunjuki di sini yang kita maksud adalah sebagaimana yang senantiasa kita panjatkan dalam QS Al-Fathihah [1]: 6,

“Ihdinash Shirath al-Mustaqiim(..tunjukilah hamba kepada shirath al-mustaqim).” Sebagaimana juga rekaman ucapan Nabi Allah Ibrahim a.s. dalam QS Al-An’am[6]:161 berikut ini:

“Katakanlah: Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada Shirathim Mustaqiim, (yaitu) agama (=Ad-Diin) yang benar, millah Ibrahim yang hanif …” (QS Al-An’am [6] : 161).

Singkat kata, yang dimaksud dengan Shirath al-Mustaqiim itu adalah identik dengan Ad-Diin.
(selanjutnya…)

Tuesday, May 12, 2009 | 21:29
Renungan

oleh Wawan TBH

Suatu saat di sebuah majelis ilmu, Sang Guru dikerumuni oleh para santrinya.
Tiba-tiba salah seorang santri memecahkan keheningan suasana dengan bertanya:

Fulan : ” Wahai Guru, tolong nasihati saya tentang Dzikrullah, hati saya sedang melemah imannya, semoga dengan mendengar nasihat Guru, taufiq Allah SWT mendatangi saya….”

Guru : “Duhai anakku yang jujur, bersyukurlah engkau yang dikaruniai kejujuran…., sesungguhnya penjelasan tentang Dzikrullah, bisa singkat namun padat. Tetapi juga bisa panjang dan tetap padat kandungannya, yang manakah yang engkau minta?”

Fulan :” Kalau yang singkat?”

Guru : “Berkat dzikrullah-lah manusia yang sebenarnya tidak punyai eksistensi (keberadaan) menjadi punya keberadaan, walaupun pinjaman dari Allah SWT.”

Fulan :“Maksudnya?”
(selanjutnya…)