Friday, November 6, 2009 | 10:06
Tashawwuf Dalam Kehidupan Kita | Renungan

oleh : Wawan TBH

Pembicaraan tentang lebih dulu mana antara doa dan ikhtiar seorang manusia dalam kehidupannya menjadi topik yang hangat di kalangan santri di Padepokan Tashawwuf, sehingga ketika ada suatu kesempatan bercengkrama dengan Sang Guru Bijak Bestari, salah seorang santri menanyakannya kepada Sang Guru.

Santri: Guru, dalam menghadapi suatu masalah, manakah sikap yang sebaiknya kita ambil, berikhtiar dulu semampu kita lalu menyempurnakannya dengan berdoa? Ataukah Berdoa dulu dengan keyakinan kemudian dilanjutkan dengan ikhtiar kita?

Guru:Pertanyaan yang bagus anakku… Memang dalam sejarah hidup manusia, pertanyaan itu senantiasa muncul di kalangan umat, namun ketika seseorang sudah mencapai kesempurnaan dalam hikmah kehidupan, niscaya dia akan mengerti tentang persoalan tersebut dengan segala variasinya.
Anakku, sebenarnya kedua sikap itu sama-sama benar, hanya saja masing-masing memiliki sebab dan kondisi yang berbeda yang Allah paksakan supaya kita melakukan itu.

Ketika kita berada pada kondisi kesadaran bahwa kemampuan kita ini yang merupakan ‘pinjaman serta titipan’ dari Kemampuan Allah yang hendaknya kita gunakan secara optimal untuk menyelesaikan permasalahan kita, maka kita akan bersikap mengupayakan ikhtiar dulu secara optimal, baru setelah itu menyempurnakannya dengan doa. Kita saat itu menyadari bahwa sempurnanya doa kita memerlukan syarat ikhtiar dulu. Maka kita akan berusaha sekuat tenaga kita untuk berikhtiar dulu baru kemudian berdoa.

Sementara pada kondisi yang lain, ketika pengenalan kita terhadap Allah yang melingkupi semua aspek Af’al (Perbuatan-perbuatan), Asma (Nama-nama), Shifat (Sifat) serta Dzat-Nya sedang menguat sedemikian sehingga menyebabkan kita menyadari dan meyakini bahwa ternyata Wujud Dia-lah satu-satunya sumber dari segala daya dan kemampuan di semesta alam ini, termasuk kemampuan kita awalnya berasal dari pelimpahan Kemampuan dari-Nya, maka sebuah doa yang kita lantunkan dengan keyakinan tinggi, merupakan awal dari ikhtiar kita dalam kehidupan.

Di sini, sempurnanya doa kita bersumber dari kesadaran akan posisi kita sebagai ciptaan yang lemah tanpa daya, berhadapan dengan Dia Sang Pencipta yang Maha Rahman, Pemelihara yang sempurna.

Santri: Lalu bagaimana caranya kita bisa mengetahui kita sedang berada pada kondisi yang mana dari kedua hal di atas Guru?
(selanjutnya…)

Tuesday, October 27, 2009 | 16:18
Renungan

oleh : Wawan TBH

Suatu sore di Padepokan Kehidupan, Sang Guru Bijak Bestari sedang bercengkrama dengan santri-santrinya, tiba-tiba salah seoang santri mengajukan pertanyaan,

Santri: Guru, Apa konsekuensi dari kesadaran kita tentang Struktur Insan?

Guru: Pertanyaan yang bagus anakku, memang kita sebagai makhluk yang paling berpotensi menjadi makhluk termulia, segala perilaku kita tergantung dari kesadaran. Nah, kesadaran tentang Struktur kita sebagai Insan ciptaan Allah, serta dengan tujuan apa Allah menciptakan kita akan menjadi visi dan melandasi aktivitas hidup kita.

Anakku, Allah menciptakan kita sebagai makhluk multi dimensi, lahir maupun batin. Dalam diri kita ini Allah tempatkan penghuni alam Jabarut yaitu ruh, nafs sebagai penghuni alam Malakut, serta jasad dari alam Mulk.Baik ruh, nafs, maupun jasad masing-masing dengan seluruh perangkat aspeknya. Sebagai makhluk multialam, seandainya kita hidup sesuai dengan Kehendak-Nya, Insya Allah Dia Ta’ala juga memberikan kemampuan komunikasi lintas alam-alam tersebut.

Santri: Apakah ketiga alam tersebut setara ataukah memiliki perbedaan?
(selanjutnya…)

Sunday, October 25, 2009 | 09:00
Renungan

oleh : Wawan TBH

Sahabats,
Bila kita dihadapkan dengan pertanyaan seperti di atas, kebanyakan kita tentu tidak akan ragu untuk menjawab, “ Jelas mau hidup senang !”, atau mungkin kita menjawab, “Kalau bisa hidup senang, kenapa mesti hidup dalam kesulitan?” Yach, itulah jawaban yang populer bagi zaman dewasa ini yang serba modern.

Pandangan hidup demikian nampaknya di zaman sekarang, lebih populer bagi kita. Tayangan iklan di media cetak dan elektronik juga lebih menyajikan dan memupuk hasrat kita untuk membuat hidup kita senang. Adakah yang aneh demikian pandangan tersebut?

Namun, marilah kita sejenak merenungkan data dan informasi berikut ini:
• Seorang pelajar yang berhasil adalah rajin belajar dan pandai mengendalikan waktunya hanya dipergunakan mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan statusnya sebagai penuntut ilmu. Artinya dengan sadar, pelajar itu menyengaja dalam rentang waktu tertentu dia mempersulit hidupnya.

• Seorang atlit secara disiplin selalu menjaga kondisi tubuh dan melatihnya dengan serius untuk memperoleh prestasi. Dia persulit hidupnya dengan sengaja karena dia sadar dengan pilihan hidupnya sebagai atlit.

• Demikian juga seorang pengusaha, di awal usahanya dia hidup berhemat dan menabung padahal sebagian besar teman-temannya membelanjakan uangnya untuk hidupnya. Dia persulit hidupnya dengan sebuah kesadaran bahwa mempersulit hidupnya itu akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik di masa depannya.

• Orang mukmin dengan tulus dan ridho mentaati hukum Allah meskipun hukum itu mengekang beberapa atau bahkan sebagian besar keinginan-keinginannya.
(selanjutnya…)

Friday, October 16, 2009 | 10:40
Renungan

oleh : Wawan TBH

Sahabats yang baik,

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membanggakan dirinya sendiri dan berjalan dengan angkuh maka dia akan menghadap Allah dan Allah murka kepadanya. (HR. Ahmad)”
Beliau juga bersabda,” Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. (HR. Muslim)”

Sahabat,
Kibir atau kesombongan adalah suatu kondisi kita ketika sedang lalai atau bahkan menolak kebenaran Al-Haq dan akibatnya kita merendahkan orang lain serta menganggap diri kita besar dan mulia.. Na’uzdubillah min dzalik!!

Kelalaian kita terhadap Al-Haq, Allah SWT bisa disebabkan oleh beberapa hal, a.l.:
(selanjutnya…)

Wednesday, October 14, 2009 | 09:05
Renungan

oleh : Wawan TBH

Di Bulan Syawal yang penuh berkah, sekelompok santri nampak sedang mengerumuni Sang Guru dalam suatu majelis ilmu di serambi masjid pesantren mereka. Kelana, salah seorang santri yang santun dan selalu bersemangat dalam menuntut ilmu, tertutama jika berkaitan dengan peningkatan akhlak mulia bertanya, setelah uraian sang Guru selesai dia bertanya,

Kelana: Guru, mohon penjelasan tentang kaitan Qalbu dengan Silaturahim yang harus kita pelihara?
Guru:Pertanyaan yang bagus Anakku… Memang kita diperintahkan Allah SWT untuk bertakwa dan memelihara silaturahim, firman-Nya:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) silaturahim (arhama). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”(QS. An-Nisa’ 4: 1)

Demikianlah Allah SWT sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pengatur kehidupan makhluk-makhluk-Nya memerintahkan agar kita bertakwa dan bersilaturahim.
Silaturahim terdiri dari kata silatu(silah) yang dapat dimaknai menyambungkan, menghubungkan dan Ar-Rahim yang merupakan salah satu asma agung (ismu al-adzam) Allah yang berarti Yang Maha Kasih dan sekaligus Pemberi Kasih.

Sehingga kita mendekati makna silaturahim sebagai berinteraksi dengan sesama makhluk dalam rangka saling menghubungkan dan menebarkan Kasih Sayang (Rahim) Allah. Tentu saja sebelum kita menebarkan, kita harus memperoleh Kasih sayang Allah terlebih dulu, baru bisa kita membagi-baginya kepada sesama makhluk.
(selanjutnya…)