Friday, August 22, 2008 | 10:25
Nasihat | Al-Quran | Renungan

Sahabats,
Menyikapi hiruk-pikuknya kehidupan di dunia ini, ada baiknya kita rehat sejenak, dan mengevaluasi diri kita masing-masing.
Sudahkah benarkah ‘IMAN’ kita di mata Allah, Sang Rabb Al-Mukmin, Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Ghafur. Jika kita menyadari, bahwa ternyata ‘IMAN’ kita belum sepenuhnya benar marilah kita berlapang dada untuk memperbaikinya…

Silakan menikmati dan merenungkan kembali….

A. Nur Iman
Makna Nur Iman (Cahaya Iman menurut Imam Al-Ghazali:
Nur Iman adalah Cahaya(Nur) Allah yang memancar di qalb orang yang Allah kehendaki bersih dari segala sesuatu yang Allah tidak suka (dosa).

Allah menyatakan bahwaDia merupakan pelindung (Wali) bagi orang beriman:

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)…”
(QS. Al-Baqarah 2: 257)

“Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke shiratal mustaqim.” (QS. Al-Maidah 5:16)

Cahaya keimanan merupakan sesuatu yang terus dibawa ketika nafs/jiwa melakukan perjalanan menembus berbagai alam. Inilah “cahaya yang bersinar di hadapan mereka”:

“…pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mu’min yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrim 66:8)

juga Dia mengisyaratkan dalam ayat-Nya yang lain:

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?… “ (QS. Al-An’am 6: 122)

Bagaimana Rasulullah menjelaskan hal tsb?

(selanjutnya…)

Tuesday, August 5, 2008 | 15:21
Pejuang Din Al-Islam


Salah seorang Pejuang Islam Indonesia, meninggal dunia di kediamannya Jalan Bulak Raya Nomor 33, Klender, Jakarta Timur. Sabtu (2/8) pukul 09.00 WIB.

Ya Allah.. terimalah amal perjuangannya sebagai amal-shalih beliau dan anugrahilah balasan yang pantas bagi beliau. amien.

Ada yang menarik tentang beliau bisa sahabat ikuti pada artikel berikut ini:

Artikel lama di bawah adalah wawancara dengan Bang Imad sekitar tahun 2000 an tapi masih banyak pelajaran yang bisa diambil dan dipakai hingga hari ini.
Dulu artikel itu disimpan di http://www.hidayatullah.com/2000/11/figur.shtml tapi sekarang sudah dihapus untuk dipakai artikel lainnya.
Mohon maaf jika sudah pernah membacanya.

(selanjutnya…)

Friday, August 1, 2008 | 14:38
Sufi di Nusantara | Komunitas Tashawwuf Nusantara

Sahabats…

Salah satu tanda ke-MahaSempurna-an Allah SWT dan ke-Luas-an Ilmu dan Hikmah-Nya adalah Dia izinkan tumbuh dan berkembangnya Thariqah-thariqah yang didirikan oleh para Kekasih-Nya yang suci, semoga keberkahan beliau2 Allah perkenankan sampai kepada kita..amien.

Dengan bantuan search-engine yang semakin marak di dunia cyber ini, kami berharap kita dapat ‘bersilaturahmi’ dan lebih mengenal sejarah, ajaran dan perjuangan para Kekasih Allah tersebut…

Manfaat apa yang ingin kita peroleh dengan silaturahmi ini? Yach.., minimal sebagai berikut:
1. Kita jadi dapat saling menghargai antar sesama pejalan suluk.
2. Kita dapat melihat betapa bijaksana dan penuh pengertian-Nya Dia yang mau didekati oleh hamba2-Nya dengan sudut pandang yang berbeda-beda.
(selanjutnya…)

| 11:09
Sufi di Nusantara | Renungan

Kisah Hidup dan Perjuangan beliau dapat sahabats nikmati di sini

| 11:05
Sufi di Nusantara

Sahabats…
Berikut ini tulisan tentang biografi Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi putra dari pasangan Hajj Abdul Mu’thi dan Nyai Nashihah.
tulisan berikut berada dalam situs resmi thariqah Shidiqqiah.

Silakan mengkaji dan meneladani perjuangan beliau dengan mengklik di sini.

Tuesday, July 1, 2008 | 09:29
Hadist Tashawwuf

Rasulullah S.A.W. bersabda:
“Di sekitar ‘Arsy terdapat tulisan yang berumur 4.000 tahun sebelum dunia diciptakan. Tulisan tersebut berbunyi:
‘Wa inni laghoffaarun liman taaba wa aamana wa ‘amila shoolihan tsummah tadaa.”
(Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi setiap orang yang bertobat, beriman, dan beramal shalih, kemudian ia berusaha untuk mendapatkan petunjuk). (HR. Dailami)

Kalimat itu sama dengan QS. Thaa ha [20]: 82

Semoga Allah memudahkan kita untuk menyempurnakan pertaubatan kita…amien.

| 09:12
Kisah Sufi | Renungan

Sahabats…
Masih di seputar hal-hal berkaitan dengan Dzikrul Maut (Mengambil hikmah dari Kematian), kali ini kami sajikan riwayat yang memberi harapan tentang interaksi jiwa kitadengan jiwa-jiwa yang sudah mendahului kita.

Semoga kita Allah rahmati untuk mengambil pelajaran dari kisah berikut…


Ibn Abi Ad-Dunya dan Ibn al-Jawzi menuturkan riwayat dari Syahr ibn Hawsyib.
Disebutkan bahwa Sha’ab ibn Jutsamah dan ‘Awf ibn Malik telah lama menjalin persaudaraan. Sha’ab berkata kepada Awf,”Saudaraku, siapa saja yang meninggal lebih dulu di antara kita, hendaklah ia memperlihatkan diri kepada yang lainnya.”Awf bertanya,”Apakah itu bisa terjadi?” “Ya.”, jawab Sha’ab.

Dikisahkan bahwa Sha’ab kemudian meninggal lebih dulu. Awf pun melihat Sha’ab dalam tidurnya. Dia bertanya,”Bagaimana perlakuan Allah SWT terhadapmu?” Sha’ab menjawab,”Aku diberikan ampunan setelah menghadapi kesusahan.”

Selanjutnya Awf bertutur sebagai berikut:
“Aku melihat kilapan berwarna hitam yang melingkar di leher Sha’ab. Aku bertanya,’Apa yang melingkar di lehermu?’
Dia menjawab,’Ini adalah sepuluh dinar yang kupinjam dari si Fulan, seorang Yahudi. Uang itu berada dalam sarung anak panah milikku. Oleh karena itu, tolong ambilkan dan berikan kepada Fulan.

Ketahuilah, tidak akan terjadi sesuatu pada keluargaku setelah kematianku ini melainkan telah sampai beritanya kepadaku, sampai kucing keluargaku yang mati beberapa hari yang lalu sekalipun. Ketahuilah, putriku akan meninggal enam hari lagi. Oleh karena itu, berikanlah nasihat kebaikan kepadanya.’
(selanjutnya…)