Monday, April 7, 2008 | 10:14
Hadist Tashawwuf

Puncak kebijaksanaan ialah takwa kepada Allah. Sebaik-baik yang tertanam dalam hati adalah keyakinan. Keragu-raguan (dalam beriman) termasuk kekufuran. Kepemudaan termasuk kelompok kegilaan (radikal). Orang bahagia adalah yang dapat mengambil pelajaran dari (peristiwa) orang lain, dan orang yang sengsara ialah yang sengsara sejak dalam kandungan ibunya. Tiap perkara yang akan datang adalah dekat. (HR. Al-Baihaqi)

| 10:09
Hadist Tashawwuf

Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata, “Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.” Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.” Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.” Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.” Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan.” Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.” Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).” Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata. Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan Ad-din(agama) kepada kalian.” (HR. Muslim)

| 10:08
Al-Quran

Sahabats…
Mari kita coba metode baru dalam mengkaji ayat-ayat Al-Quran. Metoda ini sebenarnya di dunia bahasa sudah lazim digunakan, yaitu menghubungkan istilah-istilah yang berkaitan untuk mencari kandungan makna agar lebih luas dan dalam.
Nah selamat mencoba dan mengemabangkannya lebih lanjut…


“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”(QS. Al-Fatihah [1]:6-7)

Istilah yang terkait dengan ayat di atas:
- Petunjuk Allah?
- mereka yang dimurkai (al-maghdubin)?
- mereka yang disesatkan (adh-dhollin)?

“dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. “(QS. Al-Hajj [22]: 54)

Istilah yang terkait dengan ayat di atas:
- yang diberi ilmu?
- orang yang yakin?
- Pemberi Petunjuk (Al-Haadi)?
(selanjutnya…)

| 09:59
Renungan

oleh Wawan TBH

Sahabats…
Marilah kita meluangkan waktu sejenak untuk mengapresiasi surat pembukaan dari Al-Quran yang sekaligus Ummul Kitab (kitab induk) dari Al-Quran. Rasulullah saw. menyebutkan bahwa dalam surat ini banyak sekali terdapat keutamaan.

Pada awal dari Al-Fatihah, Allah SWT. membimbing kita untuk selalu mengawali segala aktivitas kita dengan menyertakan Dia yang juga Ar-Rahman (Maha Kasih Sayang) serta Ar-Rahim (Maha Penyayang) di dalamnya.

Berikutnya setelah itu, kita Diabimbing untuk senantiasa mensyukuri segala yang terjadi pada kehidupan kita dengan ridho dan memuji-Nya, Pengatur dan Pemelihara Alam semesta seisinya (Rabbul Alamin)

Berkaitan dengan pujian ini, Allah menegaskan sekali lagi bahwa Dia adalah Ar-Rahman (Maha Kasih Sayang) sera Ar-Rahim (Maha Penyayang), Yang sekaligus Penguasa Hari Ad-Din (maliki yaumiddin)
Eh.., apakah hari ad-din itu?

Kemudian Dia mengajarkan tentang status posisi antara kita ciptaan-Nya dengan Dia sebagai sesembahan atau Zat yang ditujukan semua pengabdian padanya sekaligus Dia-lah asal dari segala pertolongan kepada seluruh ciptaan-Nya. Jadi kitalah yang membutuhkan Allah, kita yang memerlukan petunjuk-Nya untuk bisa mengabdi dengan benar. Dengan bahasa yang Dia sebut hidup di atas shiratal mustaqim.
Lagi-lagi…, apakah yang dimaksud shiratal mustaqim itu?

Nah.., Allah beritahukan bahwa shiratal mustaqim adalah jalan hidup bagi mereka yang memperoleh kenikmatan dari-Nya.

Sahabats…
Sekarang marilah kita susun pertanyaan2 introspektif untuk memperdalam apresiasi kita masing-masing:
- Sudahkah pada setiap waktu, setiap aktivitas kitaselalu kita awali dengan penyertaan Allah di dalamnya?
- Seringkah kita membiasakan menerima hasil apa pun dari pekerjaan/aktivitas kita dengan penuh rasa syukur dan pujian kepada-Nya?
- Sudah sedalam apakah pemahaman kita tentang:
a. Ar-Rahman?
b. Ar-Rahim?
c. Al-Malik?
d. Hari Ad-din?
e. na’budu (pengabdian, penghambaan) ?
f. nasta’in (memohon pertolongan) ?
g. shiratal mustaqim ?
h. golongan yang Allah beri nikmat?
i. golongan yang sesat?
j. golongan yang Allah murkai?

Nah sahabats…
tentu tiada ruginya, jika setiap ada kesempatan kita selalu berusaha meningkatkan pemaknaan dan penghayatan kita berkaitan dengan ayat-ayat di atas.
Setuju?
Semoga Allah senantiasa merahmati dan memberkahi kita…amien []

| 09:52
Sufi di Nusantara

Riwayat Hidup Tokoh pendiri pondok pesantren Suryalaya ini dapat sahabats ikuti di sini