Saturday, June 14, 2008 | 12:19
Hadist Tashawwuf

Sahabats…
Berikut ini saya sajikan hadits Rasulullah saw. yang sungguh luar biasa…
Semoga kita Allah bimbing untuk mampu mengamalkannya..

Ath-Thbrani dalam Al-Jami’ al-Kabir menuturkan riwayat dari Abdurahman bin Samrah, bahwa Rasulullah suatu hari bersabda:

“Tadi malam aku bermimpi melihat seseorng dari kalangan umatku didatangi Malaikat Maut yang akan mencabut nyawanya. Lalu datang amal kebaikan yang dikerjakannya kepada kedua orang tuanya menghalangi malaikat maut.

Aku juga melihat salah seorang dari umatku yang dibentangkan baginya azab kubur, lalu datang wudhunya menyelamatkannya dari azab tersebut.

Aku melihat seseorang dari umatku yang dikelilingi setan, lalu datang dzikrullah yang pernah dilakukannya dan berhasil menyelamatkannya dari kepungan setan-setan tersebut.
(selanjutnya…)

Tuesday, June 10, 2008 | 09:09
Nasihat | Tashawwuf Dalam Kehidupan Kita | Renungan | Tips & saran | Susastra

oleh Wawan TBH

Dalam suatu pengajian tashawwuf, Guru Bijakbestari sedang melakukan dialog dengan salah seorang muridnya tentang kesempurnaan shalat.

Murid: Kemarin Guru telah menguraikan secara jelas tentang keutamaan shalat sebagai suatu ibadah penghubung antara seorang abdi/hamba dengan Rabb-nya, dan rasanya saya cukup memahaminya. Sekarang mohon engkau jelaskan apakah perbedaan melaksanakan shalat dengan menegakkan shalat?

Guru: Melaksanakan shalat artinya kita mengerjakan shalat sesuai dengan syarat-syarat sahnya shalat sesuai yang diatur dalam fiqih(syariat lahir). Sedangkan menegakkan shalat, selain melaksanakan shalat kita menyempurnakannya dengan adab-adab2 batiniah shalat.

Murid:Bagaimana caranya agar kami dapat memprioritaskan penegakan shalat di atas kegiatan harian lainnya (seperti: bekerja di kantor, kegiatan di keluarga, di masyarakat, proyek-proyek bisnis, meeting dengan atasan, dsb.)?

Guru: Baiklah Anakku, ini sebuah pertanyaan yang penting. Shalat adalah sebuah ibadah yang pelaksanaan jasadiahnya mudah dikerjakan. Namun, keutamaan shalat dan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya baru dapat kita raih bila kita selain mengerjakan teknis jasadiahnya(sah secara fiqih), juga menyempurnakan dengan adab/etika secara pikiran maupun qalbu (adab batiniah).

Untuk dapat memprioritaskan shalat di atas segala kegiatan sehari-hari, pertama, kita perlu menjaga aqidah, yaitu dalam pikiran dan qalbu kita harus tetap dijaga bahwa urusan yang berkaitan langsung dengan Allah, seperti shalat adalah urusan yang secara hakiki –kalau kita mengerti- merupakan urusan paling menentukan kualitas ibadah/pengabdian kita kepada AllahSWT.
(selanjutnya…)

Tuesday, June 3, 2008 | 06:20
Nasihat

Berkata Kumail bin Ziyad An-Nakha’iy: “Pada suatu hari, Amirul Mu’minin Ali bin Abu Thalib kw.(karamallahu wajhahu=semoga Allah memuliakan wajahnya) menggandeng tanganka dan membawaku ke suatu tempat pekuburan. Sesampainya di sana, beliau menarik nafas panjang dan berkata kepadaku.”:

“Wahai Kumail, sesungguhnya qalbu manusia itu seperti wadah, yang terbaik darinya ialah yang paling rapi menjaga segala yang disimpan di dalamnya. Maka ingatlah apa yang kukatakan kepadamu ini.

Manusia itu ada tiga macam:
Rabbani yang berilmu, atau
orang yang senantiasa belajar dan selalu berusaha agar berada di jalan keselamatan,
atau -selebihnya- orang-orang awam(kebanyakan) yang bodoh dan picik, yang mengikuti semua pendapat -yang benar maupun yang batil- bergoyang bersama setiap angin yang berhembus, tiada bersuluh dengan cahaya ilmu dan tiada melindungkan diri dengan ‘pegangan’ yang kokoh.

Wahai Kumail, ilmu adalah lebih utama daripada harta. Ilmu menjagamu, sedangkan kau harus menjaga hartamu. Harta akan berkurang bila kau nafkahkan, sedangkan ilmu bertambah subur bila kaunafkahkan. Demikian pula budi yang ditimbulkan dengan harta akan hilang dengan hilangnya harta.

Wahai Kumail, makrifat ilmu seperti juga agama, merupakan pegangan hidup yang paling baik. Dengannya orang akan beroleh ketaatan dan penghormatan sepanjang hidupnya serta harum namanya setelah wafatnya. Ilmu adalah hakim, sedang harta adalah sesuatu yang dihakimi.
(selanjutnya…)

Monday, June 2, 2008 | 16:21
Susastra

oleh : Wawan TBH

Dalam sebuah pengajian yang disampaikan oleh seorang ulama tashawwuf di hadapan jama’ahnya terjadilah peristiwa ‘kecil’ yang menunjukkan ‘kedalaman lautan hikmah’ salah seorang jama’ah.

Ketika suasana sedang khidmat dan hening, tiba-tiba terdengar nada sambung dengan bunyi yang cukup nyaring dari handphone salah seorang hadirin yang bernama Tunasiaga. Rupanya si Tunasiaga khilap belum mematikan hp-nya sebelum memasuki ruangan pengajian, padahal di setiap sudut ruangan terpampang poster “DEMI KHUSYUKNYA PENGAJIAN, SILAKAN MEMATIKAN HP ANDA, TERIMA KASIH”.

Jantung Tunasiaga kontan berdegup kencang, wajahnya memerah menahan malu, keringat dingin menetes di wajahnya. Suasana ruangan beraneka ragam, sebagian besar hadirin meski tidak berkomentar, tetapi menunjukkan raut muka yang tidak suka. Sang Ulama terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

Tiba-tiba dari tempat 2 atau 3 orang yang duduk di samping Tunasiaga, terdengar suara, “Mohon maaf sahabat-sahabat, saya lupa mematikan hp sebelum memasuki ruangan tadi, sekali lagi mohon maaf….” Ternyata yang berbicara adalah Beninghatisambilmemegang hp-nya seolah-olah sedang mematikannya. Beninghati adalah orang yang selama ini kurang disukai oleh Tunasiaga.

Demi mendengar dan melihat siapa yang berbicara tersebut, maka ketidak-sukaan hadirin bagai mendapat penyaluran yang jelas, siapa biang keladinya. Kontan seluruh sorot matatajam terarah kepada Beninghati yang menunjukkan sikap bersalah.

Sang Ulama yang tahu ‘apa yang terjadi’ terus melanjutkan ceramahnya sambil tersenyum bahagia. Beliau mengetahui kemuliaan seorang Beninghati yang sehari-hari rajin hadir dalam kajian-kajian beliau.