oleh : Wawan TBH

Dalam sebuah pengajian yang disampaikan oleh seorang ulama tashawwuf di hadapan jama’ahnya terjadilah peristiwa ‘kecil’ yang menunjukkan ‘kedalaman lautan hikmah’ salah seorang jama’ah.

Ketika suasana sedang khidmat dan hening, tiba-tiba terdengar nada sambung dengan bunyi yang cukup nyaring dari handphone salah seorang hadirin yang bernama Tunasiaga. Rupanya si Tunasiaga khilap belum mematikan hp-nya sebelum memasuki ruangan pengajian, padahal di setiap sudut ruangan terpampang poster “DEMI KHUSYUKNYA PENGAJIAN, SILAKAN MEMATIKAN HP ANDA, TERIMA KASIH”.

Jantung Tunasiaga kontan berdegup kencang, wajahnya memerah menahan malu, keringat dingin menetes di wajahnya. Suasana ruangan beraneka ragam, sebagian besar hadirin meski tidak berkomentar, tetapi menunjukkan raut muka yang tidak suka. Sang Ulama terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

Tiba-tiba dari tempat 2 atau 3 orang yang duduk di samping Tunasiaga, terdengar suara, “Mohon maaf sahabat-sahabat, saya lupa mematikan hp sebelum memasuki ruangan tadi, sekali lagi mohon maaf….” Ternyata yang berbicara adalah Beninghatisambilmemegang hp-nya seolah-olah sedang mematikannya. Beninghati adalah orang yang selama ini kurang disukai oleh Tunasiaga.

Demi mendengar dan melihat siapa yang berbicara tersebut, maka ketidak-sukaan hadirin bagai mendapat penyaluran yang jelas, siapa biang keladinya. Kontan seluruh sorot matatajam terarah kepada Beninghati yang menunjukkan sikap bersalah.

Sang Ulama yang tahu ‘apa yang terjadi’ terus melanjutkan ceramahnya sambil tersenyum bahagia. Beliau mengetahui kemuliaan seorang Beninghati yang sehari-hari rajin hadir dalam kajian-kajian beliau.