Friday, August 29, 2008 | 09:19
Renungan

Syeikh Zarruq Ulama Sufi yang Cemerlang dari Fes

Namanya Abul Abbas Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Isa. Ia bernasab dengan kabilah Baranis dari Fes, Marokko, yang kemudian dinasabkan dengan Al-Burnusy. Panggilannya adalah Zarruq, dipanggil demikian karena kakeknya bermata biru.

Syeikh Zarruq dilahirkan hari Kamis ketika matahari terbit, 28 Muharram tahun 846 H, atau 1442 Masehi. Demikian disebutkan oleh Ummul Banin, seorang perempuan ahli fiqih yang shalihah, nenek dari Syeikh Zarruq. Setelah dua hari lahir, ia ditinggal wafat oleh ibundanya, di hari sabtu, dimana usia ibundanya waktu itu 23 tahun. Setelah itu ganti ayahandanya wafat, ketika usia jabang bayinya masih 5 hari. Usia ayahandanya 35 tahun.

Kata Syeikh Zarruq, ayahandanya memberi nama Muhammad, lalu sepeninggal ayahandanya oleh neneknya diganti dengan Ahmad. Hingga Allah memadukan dua nama mulia pada dirinya. “Aku memilih nama Ahmad karena tiga alasan,” Syeikh Zarruq:
Pertama, saya senang dengan nama itu, disamping aku dibesarkan di pangkuan nenekku. Nenek seorang yang penuh kasih sayang, seorang yang sangat alim dan shalihah.
Kedua, nama itu begitu kuat, tidak berubah, bahkan tetap dengan nama itu sepanjang tahun.
Ketiga, nama ahmad adalah nama yang dikabargembirakan oleh Allah kepada Nabi Isa as, dan tidak pernah disebutkan sebelum Nabi dan Rasul sebelum Nabi kita Muhammad saw.

(selanjutnya…)

| 09:00
Renungan

Sahabats…

Untuk dapat mensyukuri kondisi diri kita, ada baiknya kita merenungkan kata-kata bijak nan sarat hikmah dari Imam Al-Ghazali berikut, semoga Allah menolong kita agar mampu berbuat sebagaimana potensi kita yang Dia Kehendaki…amien.

Ilmu (al-‘ilm) yang paling utama ialah mengetahui akan Allah, sifat-sifat-Nya dan tindakan-tindakan-Nya. Disinilah terletak kesempurnaan manusia. Dan pada kesempurnaan inilah bergantung bagian dan kebaikan manusia di hadapan Tuhan Yang Agung dan Sempurna.

Jasad (raga) itu kendaraan dari an-Nafs (jiwa). An-Nafs itu tempat ilmu dan ilmu itulah tujuan manusia dan hakikat dirinya, yang untuk itulah manusia diciptakan. …
….
Manusia dipandang dari segi bahwa ia makan dan berketurunan—maka ia sama dengan tumbuh-tumbuhan.

Dipandang dari segi bahwa ia merasa dan bergerak dengan ikhtiarnya sendiri, sama dengan binatang.

Dipandang dari rupa dan bentuknya, ia sama dengan gambar yang dilukis pada dinding.

Letak keistimewaan manusia ialah karena ia dapat mengetahui hakikat segala sesuatu.

Barangsiapa mempergunakan semua anggota dan kekuatannya ke arah membantu mendapatkan ilmu dan mengamalkannya, maka ia serupa dengan malaikat; atau dengan kata lain ia menyusul martabat malaikat dan patutlah ia disebut malak. Sebagaimana firman-Nya:
“Ini bukanlah seorang basyar, melainkan ia seorang malak yang mulia” (QS Yusuf [12]: 31).

Sumber:
Kitab Keajaiban Hati halman 21-22

Friday, August 22, 2008 | 10:25
Nasihat | Renungan

oleh Forum Mentor YIP

Sahabats,
Menyikapi hiruk-pikuknya kehidupan di dunia ini, ada baiknya kita rehat sejenak, dan mengevaluasi diri kita masing-masing.
Sudahkah benarkah ‘IMAN’ kita di mata Allah, Sang Rabb Al-Mukmin, Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Ghafur. Jika kita menyadari, bahwa ternyata ‘IMAN’ kita belum sepenuhnya benar marilah kita berlapang dada untuk memperbaikinya…

Silakan menikmati dan merenungkan kembali….

A. Nur Iman
Makna Nur Iman (Cahaya Iman menurut Imam Al-Ghazali:
Nur Iman adalah Cahaya(Nur) Allah yang memancar di qalb orang yang Allah kehendaki bersih dari segala sesuatu yang Allah tidak suka (dosa).

Allah menyatakan bahwaDia merupakan pelindung (Wali) bagi orang beriman:

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)…”
(QS. Al-Baqarah 2: 257)

“Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke shiratal mustaqim.” (QS. Al-Maidah 5:16)

Cahaya keimanan merupakan sesuatu yang terus dibawa ketika nafs/jiwa melakukan perjalanan menembus berbagai alam. Inilah “cahaya yang bersinar di hadapan mereka”:

“…pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mu’min yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrim 66:8)

juga Dia mengisyaratkan dalam ayat-Nya yang lain:

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?… “ (QS. Al-An’am 6: 122)

Bagaimana Rasulullah menjelaskan hal tsb?

(selanjutnya…)

Tuesday, August 5, 2008 | 15:21
Pejuang Din Al-Islam


Salah seorang Pejuang Islam Indonesia, meninggal dunia di kediamannya Jalan Bulak Raya Nomor 33, Klender, Jakarta Timur. Sabtu (2/8) pukul 09.00 WIB.

Ya Allah.. terimalah amal perjuangannya sebagai amal-shalih beliau dan anugrahilah balasan yang pantas bagi beliau. amien.

Ada yang menarik tentang beliau bisa sahabat ikuti pada artikel berikut ini:

Artikel lama di bawah adalah wawancara dengan Bang Imad sekitar tahun 2000 an tapi masih banyak pelajaran yang bisa diambil dan dipakai hingga hari ini.
Dulu artikel itu disimpan di http://www.hidayatullah.com/2000/11/figur.shtml tapi sekarang sudah dihapus untuk dipakai artikel lainnya.
Mohon maaf jika sudah pernah membacanya.

(selanjutnya…)

Friday, August 1, 2008 | 14:38
Sufi di Nusantara | Komunitas Tashawwuf Nusantara

Sahabats…

Salah satu tanda ke-MahaSempurna-an Allah SWT dan ke-Luas-an Ilmu dan Hikmah-Nya adalah Dia izinkan tumbuh dan berkembangnya Thariqah-thariqah yang didirikan oleh para Kekasih-Nya yang suci, semoga keberkahan beliau2 Allah perkenankan sampai kepada kita..amien.

Dengan bantuan search-engine yang semakin marak di dunia cyber ini, kami berharap kita dapat ‘bersilaturahmi’ dan lebih mengenal sejarah, ajaran dan perjuangan para Kekasih Allah tersebut…

Manfaat apa yang ingin kita peroleh dengan silaturahmi ini? Yach.., minimal sebagai berikut:
1. Kita jadi dapat saling menghargai antar sesama pejalan suluk.
2. Kita dapat melihat betapa bijaksana dan penuh pengertian-Nya Dia yang mau didekati oleh hamba2-Nya dengan sudut pandang yang berbeda-beda.
(selanjutnya…)