oleh Forum Mentor YIP

Sahabats,
Menyikapi hiruk-pikuknya kehidupan di dunia ini, ada baiknya kita rehat sejenak, dan mengevaluasi diri kita masing-masing.
Sudahkah benarkah ‘IMAN’ kita di mata Allah, Sang Rabb Al-Mukmin, Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Ghafur. Jika kita menyadari, bahwa ternyata ‘IMAN’ kita belum sepenuhnya benar marilah kita berlapang dada untuk memperbaikinya…

Silakan menikmati dan merenungkan kembali….

A. Nur Iman
Makna Nur Iman (Cahaya Iman menurut Imam Al-Ghazali:
Nur Iman adalah Cahaya(Nur) Allah yang memancar di qalb orang yang Allah kehendaki bersih dari segala sesuatu yang Allah tidak suka (dosa).

Allah menyatakan bahwaDia merupakan pelindung (Wali) bagi orang beriman:

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)…”
(QS. Al-Baqarah 2: 257)

“Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke shiratal mustaqim.” (QS. Al-Maidah 5:16)

Cahaya keimanan merupakan sesuatu yang terus dibawa ketika nafs/jiwa melakukan perjalanan menembus berbagai alam. Inilah “cahaya yang bersinar di hadapan mereka”:

“…pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mu’min yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrim 66:8)

juga Dia mengisyaratkan dalam ayat-Nya yang lain:

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?… “ (QS. Al-An’am 6: 122)

Bagaimana Rasulullah menjelaskan hal tsb?


Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw berdialog dengan salah seorang sahabat beliau, yang bernama Haritsah r.a. tentang hakikat iman :
Suatu ketika Rasulullah saw. sedang berjalan. Beliau bertemu dengan seorang sahabat Anshar bernama Haritsah. Rasulullah saw. bertanya, “Bagaimana keadaanmu wahai Haritsah?” Haritsah menjawab, “Hamba sekarang benar-benar menjadi seorang mukmin billah.” Rasulullah saw. berkata,”Wahai Haritsah, pikirkanlah dulu apa yang engkau ucapkan itu, setiap ucapan itu harus dibuktikan…!”

Haritsah menjawab, “Ya Rasulullah, hawa nafsu (hamba) telah menyingkir, kalau malam tiba hamba terjaga untuk beribadah kepada Allah SWT, dan di waktu siang hari hamba shaum.. Sekarang ini hamba dapat melihat al-’Arsy Allah tampak dengan jelas di depan hamba..
Hamba dapat melihat orang-orang di al-jannah saling mengunjungi. Hamba saksikan penghuni al-Naar berteriak-teriak… ”
Maka, Rasulullah saw. berkata, “Engkau telah menjadi orang yang imannya dinyalakan dengan terang oleh Allah di qalb-mu.”

B. Tempat Nur Iman itu di Qalb

Ayat berikut ini menjelaskan bahwa iman itu bukan sekedar pernyataan di lisan, dan di perbuatan seseorang, melainkan juga apa yang Allah berkenan melimpahkannya ke dalam qalb seorang hamba:

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Hujurat 49:14)

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar 39:22)

Berkenaan dengan masalah ‘pembukaan’ dada untuk berserah diri, yang kemudian diikuti pencahayaan oleh Allah itu sebagai suatu hal yang memperlihatkan proses pengimanan awal, Rasulullah SAW menjelaskan tanda-tandanya berikut ini:

Tatkala Rasulullah SAW membaca firman Allah Ta’ala:“Barangsiapa dikehendaki Allah memberi petunjuk kepadanya, niscaya dibukaNYA sudhur orang itu untuk berserah diri…” (QS. Al-An’am 6:126)

Lalu bertanya seorang sahabat kepada Nabi SAW,”Apakah pembukaan itu?”. Nabi SAW menjawab,“Sesungguhnya cahaya itu apabila diletakkan dalam qalb, maka terbukalah sudhur (dada) menerima cahaya tersebut dengan seluas-luasnya.”

Bertanya lagi sahabat tersebut,”Adakah tanda-tandanya?”.

Nabi SAW menjawab,“Ya ada, menjaga jarak diri dari negeri tipu daya(dunia), kembali ke negeri kekal(akhirat) dan bersedia mati sebelum datangnya ajal.” (Ihya Ulumuddin Jilij 1 halaman 287)

Dalam proses pensucian nafs atau jiwa, pada tingkatan-tingkatan berikutnya kemudian diikuti dengan pelimpahan-pelimpahan cahaya iman lebih lanjut:

“…Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam qalb mu..” (QS Al-Hujurat 49:7)

“…agar bertambah keimanan mereka bersama keimanan yang telah ada..” (QS Al-Fath 48:4)

Akhirnya, proses pengimanan paripurna yang Allah anugerahkan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya dan dikasihi-Nya ditandai dengan ayat berikut:

“…mereka itulah orang-orang yang telah dituliskan dalam qalb mereka al-Iman” (QS Al-Mujaadilah 58:22)

Hanya qalb lah satu-satunya perangkat pada manusia yang dapat menerima pencahayaan pengimanan, sebagaimana dirumuskan dalam hadits qudsi berikut:

“…tidak cukup untuk-Ku, bumi-Ku dan langit-Ku, tetapi yang mencukupi bagiku hanyalah qalb hamba-Ku yang mu’min.”

C. Fungsi Iman bagi Diri Kita

a. Sebagai sarana diturunkannya petunjuk (hudan)

“… dan barangsiapa yang beriman billah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada qalb-nya…”(QS. At-Taghabun 64: 11)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanan mereka…” (QS. Yunus 10: 9)

“… dan sesungguhnya Allah Pemberi petunjuk bagi orang-orang beriman kepada shirath al-mustaqim.”(QS. Al-Hajj 22:54)

b. Melalui Iman Cahaya Allah mengajarkan kebenaran ayat-ayat-Nya(qur’aniyyah maupun kauniyyah) kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya, sehingga sang hamba mampu:
- menyaksikan alam malakut, sebagai alam dari jiwanya.
- menyaksikan segenap ayat-ayat-Nya tanpa terbatasi ruang dan waktu.
- memahami seluruh pelik-pelik rahasia Ad-Dien dengan penuh keyakinan.

” Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar…” (QS. Fushilat 41: 52)

” Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu…” (QS.Al-’Ankabut 29:49)

” tidak menyentuhnya (Al-Quran) kecuali hamba-hamba yang disucikan (al-muthahharun).” (QS. Al-Waaqi’ah 56:79)

c. Dengan bantuan cahaya-Nya, Allah memperkenal Diri-Nya, dan memperlihatkan cahaya-cahaya kesucian, sehingga seorang mukmin mampu ma’rifat kepada Allah serta mengimani kebenaran rasul-rasul(para utusan)-Nya.

” Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan orang-orang yang menjadi saksi (syuhada) di sisi Rabb mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka…” (QS. Al-Hadiid 57:19)

Sahabats..,
Akhirnya, mari kita renungan kutipan Ihya Ulumuddin jiliid I hal. 285-286 mahakarya Imam Al-Ghazali berikut:

“..sahabat Abdullah ibnu Umar ra. menguraikan tentang peran iman cahaya dalam menerima dan menyikapi apa-apa yang Allah turunkan sbb:
Kita telah hidap sekejap mata. Ada di antara kita yang memperoleh iman sebelum Al-Quran, lalu turunlah surat Al-Quran itu. Maka dia pelajari hal-hal yang haram dan halal, yang diperintahkan dan dilarang Allah dan apa yang dia harus berhenti sampai di situ. Aku telah menyaksikan berbagai orang. Salah seorang diantara mereka didatangkan Al-Quran sebelum iman, kemudian dipelajarilah semuanya, dari permulaan sampai penghabisan Al-Quran dengan tidak mampu mengetahui apa penyuruh dan pelarangnya, apa yang seyogyanya dia berhenti padanya. Maka dihamburkannya apa yang telah dibacanya itu seperti menghamburkan kurma busuk.

Adalah kami para sahabat Nabi SAW., diberikan kepada kami Iman sebelum Al-Quran. Dan akan datang sesudah kamu, suatu kaum yang diberikan Al-Quran sebelum iman. Mereka menegakkan huruf-huruf Al-Quran dan menyia-nyiakan batas-batas dan hak-hak dari Al-Quran, dengan mengatakan: ‘Kami sudah membacanya, siapakah yang lebih banyak membaca dibandingkan kami? Kami sudah tahu, siapakah yang lebih tahu daripada kami? Maka begitulah nasib mereka.”

Wallahu a’lam bi shawwab.