BERSERAH-DIRI, MUDAH ATAU SUSAH?
![]()
Sahabats…
Mari kita sejenak melepaskan diri dari rutinitas kerja kita dengan merenung secara ’sersan’(serius tapi santai) tentang keberserah-dirian…
Keberserah-dirian adalah suatu prinsip yang paling mudah kita sebut, tetapi paling sulit kita sampaikan. Ia bukanlah sebuah pengertian yang dapat kita ambil dari orang lain, melainkan sesuatu yang harus kita cari sendiri oleh setiap kita.
Kitab-kitab suci memandu pembacanya dengan membentangkan contoh-contoh keberserah-dirian dari kita yang dididik Allah. Para nabi dan orang-orang suci yang merupakan teladan bagi manusia itu—tanpa kecuali—semuanya berserah-diri.
Terdapat kaitan yang sangat erat antara istilah-istilah kunci dalam ayat ini:
“Dan siapakah yang lebih baik diin-nya daripada orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, dan ia seorang muhsinun dan mengikuti milah Ibrahim yang hanif, dan Allah telah mengambil Ibrahim sebagai khalil-Nya.”
(QS An Nisaa’ [4]: 125).
Berserah-diri itu adalah bekerja-keras menemukan kehendak-Nya, dan kemudian mengalir (bertasbih) dalam kehendak-Nya. Berserah-diri adalah sendi agama. Ia adalah prinsip dasar yang di atasnya segala sesuatu yang lain ditegakkan.
‘Berserah-diri’ merupakan makna yang dicoba disampaikan dengan berbagai istilah penting, antara lain: aslama (dari akar ini istilah yang dipilih untuk menjadi nama agama yang diridhai, Al-Islam, berasal), sabaha (dari sini kita mendapatkan kata tasbih), na’budu (mengabdi), sujada (akar kata sujud). Istilah-istilah ini bertebaran di seantero Al-Qur’an.
Kiprah berbagai nabi dan rasul memperlihatkan keberserahdirian beliau-beliau dalam jalan pendidikan Allah kepada diri para nabi masing-masing. Keberserah-dirian adalah istilah dari ‘state’ yang dipilih Allah untuk nama agama-Nya. Setiap nabi—yang semuanya ber-ma’mum kepada Rasulullah Muhammad s.a.w.—membawakan tema keberserah-dirian sesuai dengan perintah Allah yang mereka terima. Inilah ‘nafas’ dari setiap syariah yang mereka bawakan.
Baru pada fase kenabian Muhammad s.a.w. itulah tema-dasar dari semua kenabian sebelumnya itu diangkat menjadi nama dari agama (ad-Diin). Tiada tempat bagi kita untuk tidak berserah-diri, karena semua makhluk ciptaan yang lainnya—tanpa kecuali—semuanya berserah-diri.
Berserah-diri … Sedari Awalnya
Kita semua makhluk adalah ciptaan, yang tidak pernah jeda bergantung dan membutuhkan Sang Pencipta. Sejak awalnya, yang diminta dari kita semua makhluk adalah keberserah-dirian kepada-Nya. Demikianlah, menurut sebuah Hadits Qudsi, yang pertama-tama tertulis di al-Lawh al-Mahfudz adalah Sabda Ilahi berikut ini:
“Bismillahir rahmanir rahiim. Barangsiapa yang taslama kepada qadha-Ku dan ridha dengan pengaturan (hukm)-Ku, dan sabar atas ujian (bala’)-Ku, niscaya Aku bangkitkan ia pada hari kiamat (al-yaum al-qiyamah) bersama para ash-shiddiqiin.”
(HQR Dailami dari Ibnu Abbas r.a.).
Banyak sekali ayat di dalam al-Qur’an yang menunjukkan bahwa keberserah-dirian merupakan sikap dasar dari semua ciptaan di lelangit dan bumi.
“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih berupa asap, lalu Dia bersabda kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kalian dengan suka-hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab: ‘kami datang dengan suka-hati.’”
(QS Fushshilat [41]: 11)
“Maka apakah mereka mencari selain diin Allah, padahal berserah-diri (aslama) segala sesuatu di lelangit dan bumi dengan suka-hati ataupun terpaksa, dan kepada Allahlah mereka dikembalikan.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 83).
Diajarkan Semua Nabi
Kepada nenek-moyang kita semua diturunkan firman ini:
“Allah bersabda: ‘Turunlah kalian berdua bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”
(QS Thaahaa [20]: 123).
Persoalan dasar bagi setiap jiwa kita adalah:
apakah alam yang disini dan kini akan menjadi alam-dunia yang akan membuat kita terjebak dan menganggap bahwa disini dan kini itu merupakan keseluruhan perjalanan kita; ataukah akan menjadi ‘mahdan’ suatu tempat petunjuk yang memang perlu kita cari dan kumpulkan demi kemaslahatan jiwa kita di alam-alam berikutnya.
Kita telah mengetahui bahwa raga kita memang diciptakan dari unsur-unsur bumi, karenanya ia mencintai segala sesuatu dari alam ini, dan menganggap bahwa di sini dan kini adalah keseluruhan alam yang kita perlukan. Di dalam diri kita, hal ini berhadapan dengan kecenderungan jiwa yang menganggap bahwa semua yang dilakoninya di bumi ini merupakan tahap yang diperlukannya untuk mengumpulkan bekal dalam keseluruhan perjalanannya.
Yang pertama-tama teramat penting bagi kita dalam fase kehidupan di Bumi ini adalah pemenuhan perjanjian primordial kita dengan Tuhan. Amanah yang telah kita sepakati dalam perjanjian di alam alastu itulah yang merupakan perhatian kita yang utama, sedangkan semua yang selain hal itu, merupakan penunjang yang mendukung pelaksanaan amanah tersebut. Karenanya, tidak ada satu hal pun yang kita alami yang kita anggap sebagai suatu kebetulan belaka.
Bagi kita, Bumi ini tidaklah lain dari suatu mahdan: arena tempat Tuhan menaruh berbagai petunjuk yang kita butuhkan untuk memenuhi perjanjian kita tersebut.
Untuk melepaskan diri dari hanya sekedar memperturutkan kemauan ragawi kita itulah maka setiap kita memerlukan ‘petunjuk’ bagi kemaslahatan jiwa kita. Sewaktu seseorang berupaya patuh pada petunjuk yang memandu kepada kemaslahatan jiwa kita, maka kita memerlukan jasa dari raga kita. Tetapi raga di sini tidak lagi kita tempatkan sebagai ‘tuan besar’ yang harus kita turuti semua kemauannya, tetapi akan kita tempatkan sebagai ‘tunggangan’ yang kita gembalakan, dan kita kendarai kesana kemari sesuai keperluan jiwa kita. Dan petunjuk itu membutuhkan kelapangan dada untuk berserah-diri. Antara lain, itulah signifikannya pelajaran dari hadits Rasulullah s.a.w. ini:
Tatkala Rasulullah s.a.w. membaca firman Allah Ta’ala:
“Barangsiapa dikehendaki Allah memberi petunjuk kepadanya,
niscaya dibuka-Nya shudur orang itu untuk berserah diri…”
Lalu orang bertanya kepada Nabi s.a.w., “Apakah pembukaan itu?”
Nabi s.a.w. menjawab, “Sesungguhnya cahaya (nuur) itu apabila diletakkan dalam qalb, maka terbukalah dada (shudur) menerima nuur tersebut dengan seluas-luasnya.”
Berkata lagi orang itu, “Adakah tanda-tandanya?”
Nabi s.a.w. menjawab, “Ya, ada! Merenggangkan diri dari negeri tipu daya, kembali ke negeri kekal dan bersedia untuk mati sebelum datangnya mati.”
‘Mati sebelum mati’ itulah yang kita cari sebagai pertaubatan kita yang sejati.
Tentu saja artinya bukan bunuh-diri ragawi, melainkan suatu keadaan ideal dimana yang dikerjakan itu sepenuhnya merupakan petunjuk-Nya—penyerahan wajah sang hamba sepenuhnya kepada Sang Pencipta—bukan sesuatu yang berasal dari keinginannya sendiri.
Barulah dikatakan kita sebagaiseorang pencari itu menjadi ‘sufi’ jika kita telah sampai pada keadaan itu. Oleh karena itu, jelaslah panduan bagi semua orang yang mencari Allah adalah pelajaran Allah sendiri kepada para nabi: mereka itulah yang merupakan panutan dalam keberserah-dirian.
‘Dibukanya-dada’ untuk berserah-diri itulah yang akan membawa kepada pelimpahan cahaya dari Tuhan, yang tanpa cahaya itu manusia akan tersesat dalam kegelapannya sendiri.
“Maka apakah yang dibukakan Allah dadanya kepada keberserah-dirian lalu ia mendapatkan cahaya dari Rabb-nya …”
(QS Az Zumar [39]: 22).
“Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya, yang dengan cahaya itu ia berjalan diantara manusia serupa dengan yang dalam kegelapan yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya. Demikianlah al-kafirin memandang-baik apa yang mereka kerjakan.”
(QS Al An’aam [6]: 122).
Pendidikan Allah yang senada dengan hadits di atas juga disampaikan dalam awal risalah Nabi Ibrahim a.s. dalam persoalan pencarian Tuhan semesta alam yang harus kita cari petunjuk-Nya, diantara belantara himbauan makhuk-makhluk lain:
“Maka kemanakah kalian akan pergi?”
“Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku, kiranya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
Ibrahim, khalilullah a.s. sang Bapak bangsa-bangsa (abra arham) meneladankan dalam risalahnya pencarian akan Allah yang konsisten dalam keberserah-dirian. Tauhid sejati yang diamalkannya hanya mengenal satu obyektif dan satu sumber panduan saja: Allah, Sang Pencipta sendiri.
Bagi para nabi, tidaklah ada perbedaan diantara mereka, semuanya saja menyerukan keberserah-dirian dengan meneladankannya kepada umat mereka masing-masing.
“Katakanlah kami beriman billah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, dan Ya’qub dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan para nabi dari Tuhan mereka, tidaklah Kami membedak-bedakan seorang pun diantara mereka. Dan kepada-Nya lah kami berserah-diri.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 84).
Ad-Diin, Al-Islam
Simbol yang dipergunakan di alam jiwa bagi agama (ad-diin) adalah (buhul) tali yang terulur dari langit untuk berpegangannya jiwa kepadanya. Tali yang sangat halus ini mensyaratkan keberserahan-diri agar dapat terpegang. Tanpa kehalusan itu, kita, manusia cenderung lebih memilih genggaman yang lebih ‘kuat-teraba’ dan ‘pasti.’
“Dan barangsiapa menyerahkan (yuslimu) wajahnya kepada Allah dan ia berbuat dengan ihsan (muhsinun), sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang kokoh.”
(QS Luqman [31]: 22).
Keseluruhan aspek diri kita, itulah yang diwakili oleh ‘wajah.’ Inilah yang dihimbau untuk kita serahkan—seluruhnya—demi kebaikan kita sendiri:
“Demikianlah, barangsiapa menyerahkan (aslama) wajahnya kepada Allah dan ia berbuat dengan ihsan (muhsinun), maka ia memiliki ganjaran (ajran) di sisi Rabb-nya.”
(QS Al Baqarah [2]: 112)
Dan kita bisa merenungkan kembali ayat berikut ini, tentang lebah (an-nahl) yang merupakan simbol dari suatu kaum—yang melayang dalam perjalanannya di bumi ini:
“Dan Rabb-mu mewahyukan kepada seekor lebah (an-nahli): buatlah dari gunung (al-jibal) sarang-sarang, dan dari pohon (asy-syajari), dan dari apa-apa yang meng-‘arsy (ya’risyun).”
(An-Nahl [16]: 68).
Keberserah-dirian secara paripurna, itulah agama (ad-ddin):
“Barangsiapa mencari selain al-islam sebagai diin-nya, maka sekali-kali tidaklah itu dikabulkan darinya. Dan ia pada hari akhirat termasuk golongan yang merugi.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 85).
Tidak Ada Tempat bagi Ciptaan yang Tidak Berserah-diri
Tanpa keberserah-dirian itu, maka kita dan semua ciptaan menjadi ‘asing’ diantara ciptaan-ciptaan lainnya. Dan posisi kita menjadi tidak jelas: kita, makhluk yang keberadaannya senantiasa bergantung kepada yang mengadakannya, tetapi kepada yang mengadakannya itu kita tidak mau berserah-diri. Sementara itu lelangit, bumi dan semua makhluk lainnya berserah-diri. Ini bertebaran dalam banyak sekali ayat yang menyatakan mereka itu bertasbih, bersujud, mengabdi, dan dengan istilah-istilah searti lainnya.
Allah memperingatkan dalam sebuah Hadist Qudsi berikut ini, yang mendeskripsikan pokok-pokok persoalan keberserah-dirian, dan juga dengan sangat keras menyatakan bahwa tiada tempat dalam ciptaan bagi makhluk yang tidak berserah-diri:
“Barangsiapa tidak ridha dengan qadha-Ku, dan tidak bersabar atas ujian (bala’)-Ku, tidak bersyukur atas ni’mat-Ku, dan tidak mau menerima apa yang Aku berikan, maka sembahlah Tuhan selain Aku.”
Wallahu a’lam bi shawwab.
Nah sahabats….
Sudah siapkah kita untuk berserah-diri?

salaam
mas wawan artikel yang dalam sekali.
thanks. mengisi hatiku yang suwung nih…
Comment by siska — Friday, December 12, 2008 @ 14:10
Assalamualaikum…
Salam kenal…
sebuah artikel yang dapat membuat kita menjadi sebenar2nya Hamba Allah
Comment by hinakelana — Sunday, December 21, 2008 @ 07:25
Wa Alaikum salam wr.wb.
Siska n Mas/mbak Hinakelana yg baik..
Mkasih atas kunjungannya, smg Blog ini dapat memberikan manfaat… dan Allah meridhoi kita..amien.
Comment by WawanTBH — Monday, December 22, 2008 @ 17:43
Assalamualaikum Mas Wawan,
maaf saya mau nanya tentang keberserah-dirian yg seperti apa untuk menemukan kehendak-Nya, dan untuk tahu kita sudah mengalir (bertasbih) dalam kehendak-Nya ada tandanya ga..
Comment by benni — Friday, January 16, 2009 @ 14:09
Alhamdulillah, sangat menambah wawasan
Comment by Yoni — Monday, January 19, 2009 @ 07:20
Wa alaiku salam wr.wb.
=> Benni
Mksh atas pertanyaannya, smg kita bisa menemukan jawabannya secara bersama2 (saling sharing di antara kita di sini)
Dari pengalaman pribadi sy dan beberapa sahabat sesama pejalan, kita kadang2 Allah anugrahi ‘rasa’ yg dapat merasakan bahwa saat itu kita sedang di jalan yang benar (Dia Kehendaki), hal itu terjadi ketika sikon kepasrahan kita kepada-Nya, tanpa kita upayakan Dia anugrahkan kepada kita..(Penting untuk DISADARI: bahwa kondisi spt itu sangat mudah berubah setiap saat !!!), ini MUTLAK pemberian, yang sering kita alami sesaat setelah kita shalat.
Jika diilustrasikan (sehingga lebih terbaca sebagai ikhtiar kita) sbb, pada kondisi itu: 1.kesadaran bahwa kita adalah sosok yg lemah, bukan apa2, tidak punya keinginan, dsb. SANGAT KUAT.
2. TEKAD N KEMAUAN untuk MENGABDI/IBADAH dengan porsi yg ‘tidak ngoyo tapi serius’ menguat, dan disertai dg kesadaran bahwa itu semua BUKAN berasal dari diri kita, tapi karena Diahadirkan dalam diri kita.
3. kalimat LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH (tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah) terasa ‘hidup’ dalam diri kita.
Ini hanya sekelumit dari gambaran tenteng ‘tanda keberserah-dirian’, tanda2 yang lainnya, sy yakin jauh lebih banyak, beragam bentuknya sesuai dgn apa2 yg memudahkan si pelaku yang mengalaminya.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa mengenali tanda2-Nya dalam diri kita masing2, tentu dg sebelumnya mohon bimbingan kepada-Nya
Wallahu a’lam bi shawwab
Comment by WawanTBH — Thursday, January 29, 2009 @ 14:54
=>Yoni
Terimakasih atas kunjungannya..
Alhamdulillah, kalo tulisan2 di blog ini dapat memberikan manfaat buat anda dan sahabat2 yg lain..
Kalo dirasa ada guna dan manfaatnya silakan kalo anda mau menyebarkan kepada kenalan2 anda, hanya kalo boleh mohon dicantumkan referensinya..
Semoga Allah merahmati n memberkahi niat baik kita. amien.
Comment by WawanTBH — Thursday, January 29, 2009 @ 14:59
Salam Persahabatan Kang Wawan
he he he susah apa mudah, benar apa salah, dalam benar muncul salah, dalam salah muncul benar he he pusing ya biarin aja gak usah perduliin si botol kosong lagi ngelantur he he he kembali lagi itu semua sebuah pemahaman ….
Maaf seribu maaf saya mo urun rembug jangan diketawain klo salah lupain aja si botol kosong ini yang suka sok tahu, he he he, berserah diri coba perhatikan sejelas jelas artinya.
Banyak yang salah kaprah mereka bekerja dengan membayang kan hasil besar, memohon kepadaNya akan hasil itu tapi begitu suatu saat dia kepentok jalan sulit baru bilang ya pasrahkan saja padanya, he he he pasrah kok mesti kepentok dulu berserah diri kok mesti dipaksa oleh keadaan, he he apa gak salah
Berusaha sekuat tenaga mencari kehendakNya agar bisa mengalir inilah yang saya kurang setuju mas walaupun gak salah maafkan si botol kosong ini ya kang, karena menurut daku siapa yang bisa berserah atau bergantung atau memasrahkan diri hanya yang lemah, tak mampu dan tak berdaya, selama kita masih kuat bertenaga apa artinya berserah he he disini perbedaan kekuatan diri dan kekuatan penyerahan diri.
Akhirnya ini menurut saya ya kalo salah tolong mas beri petunjuk satu satu nya jalan untuk pasrah hanyalah menyadari ketakberdayaan kelemahan lahwalla walla quwata illa billa dan selanjutnya illaihirojiun kita kembalikan semuanya hanya padaNYA.
Engkau bekerja tapi tak memikirkan hasil tetapi lillahi taala, ha ha ha balik lagi ya kang jalan nya jalan cinta jalan orang yang dimabuk asmara isinya penyerahan diri kepasrahan mohon dihapunten ya kang maklum botole masih kosong
Matur Nuwun
Comment by kangBoed — Sunday, February 1, 2009 @ 20:27
Assalamualaikum Wr. Wb.
Mas Wawan, tulisan2 mas benar2 membawa penyegaran materi pengajian SS yg saya sendiri sdh hampir2 lupa. Saya cerita sedikit tentang pengalaman pribadi. Setelah berbaiat pada Mursyid tercinta dg menyatakan diri taubat yg semurni2nya, ujian hidup yg mengikuti setelah itu seolah2 seperti hantaman gelombang lautan yg tdk ada habis2nya. Selesai satu ujian datang lagi yg lain. Tetapi semoga aja itu adalah pembersihan dosa2 sebelumnya (menurut saya mendingan dibersihkan di alam dunia daripada nanti di akherat malah jauh lebih sakit). Allah ta’ala kan jg menguji hamba-Nya tidak melebihi kesanggupan si hamba tsb menanggungnya. Seiring dg itu sedikit demi sedikit saya jadi semakin terbuka wawasan akan makna hakekat hidup di alam dunia. Ujian demi ujian yg Allah ta’ala berikan kepada diri kita itu ternyata wujud dari kasih sayang-Nya kepada kita. Seingat saya dulu Kang Zam pernah menjelaskan pada pengajian SS bahwa kasih sayang Allah itu mendahului murka-Nya. Ujian2 itu ternyata membuat si nafs menjadi lebih kuat. Apakah itu riyadhah yg sebenarnya ya mas? Mursyid tercinta jg selalu mewanti2 agar jangan pernah mengeluh. Bahwa apapun yg terjadi pd diri kita, baik/buruk (menurut perasaan kita), semuanya atas ijin Allah betul kan mas? Saya pingin ngobrol2 sekalian diskusi/sharing di forum ini kl mas Wawan nggak keberatan. Wassalam.
Comment by Yoni — Wednesday, February 4, 2009 @ 22:22
Dirimu hadir….. saat aku DIAM…
DIAM dalam keDIAMan…
Menatap mesra… lembut dan manja…
Menggetarkan sang diri yang terlena…
Lupaaa…… Hilaaaang sudaaah semua perkara….
Saat sapaaaan dan belaianMU datang
Tertumpah Rindu hati dalam isak tangis penyerahaaan…
hmm…. Sungguh indaaah…. tak terkira rasanya…
Apalah daya ini….
Lepas sudah… telanjang….
Semua tertinggaaaal….
Hidup dalaaam HIDUP….
Salam Sayang…
Salam Hormat…
Salam Taklim…
Salam Sejati… (*sampai mati*)
Comment by KangBoed — Tuesday, May 5, 2009 @ 23:01