oleh Wawan TBH dkk (Tim PICTS)

Sahabats…

Alangkah bersyukurnya, seandainya iman kita Allah nilai sebagai Iman yang hakiki, yaitu Iman yang berupa Cahaya-Nya. Hal itu karena iman yang demikian mempunyai fungsi terhada hidup kita, a.l.:


• Sebagai sarana diturunkannya petunjuk (hudan).

Dengan adanya nur iman dalam diri kita, Allah memberikan petunjuk-Nya langsung ke dalam qalb kita, sehingga kita menjalani hidup ini dengan bimbingan-Nya.

“… dan barangsiapa yang beriman billah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada qalb-nya …”(QS At Taghaabun [64]: 11.)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal-shaleh diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanan mereka …”(QS Yunus [10]: 9)

“… dan sesungguhnya Allah Pemberi-petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada shiraath al-mustaqiim.”(QS Al Hajj [22]: 54)


• Melalui iman cahaya Allah mengajarkan kebenaran ayat-ayat-Nya (baik yang qur’aniyah maupun yang kauniyah) kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya, sehingga ia dapat menyaksikan kerajaan langit (alam malakut atau alam jiwa), menyaksikan ayat-ayat Allah tanpa terbatasi ruang dan waktu, dengan seizin-Nya; serta dapat memahami pelik-pelik dan hakikat-hakikat agama dengan penuh keyakinan.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di dalam segenap ufuk dan di dalam diri mereka sendiri, sampai jelaslah bagi mereka bahwa itu adalah al-Haqq.”(QS Fushshilat [41]: 53)

“Sebenarnya itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu …”(QS Al Ankabuut [29]: 49)

“Tidak menyentuhnya melainkan yang disucikan (al-muthaharuun)”(QS Al Waaqi’ah [56]: 79)

• Dengan bantuan cahaya-cahaya-Nya Allah memperkenalkan Diri-Nya, dan memperlihatkan cahaya-cahaya kesucian, sehingga seorang mukmin dapat ma’rifat kepada-Nya serta beriman kepada utusan-utusan (rasul-rasul)-Nya.

“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah para shiddiqiin dan syuhada di sisi Rabb mereka …”(QS Al Hadiid [57]: 19)

Bagaimana peran iman cahaya ini dalam menerima dan menyikapi apa-apa yang Allah turunkan dilukiskan dalam uraian seorang sahabat, Ibnu Umar r.a., berikut ini:
“Kita telah hidup sekejap mata. Ada diantara kita yang memperoleh iman sebelum Al-Qur’an, lalu turunlah surat Al-Qur’an itu. Maka dipelajarinya lah yang halal dan yang haram, yang disuruh dan yang dilarang, dan apa yang dia harus berhenti sampai di situ.
Aku sudah melihat beberapa orang. Salah seorang diantara mereka didatangkan Al-Qur’an sebelum iman, maka dibacanya lah semuanya, dari permulaan sampai ke penghabisan Kitab Suci, dengan tidak diketahuinya apa penyuruhnya dan apa pelarangnya. Dan apa yang seyogyanya dia berhenti padanya. Maka dihamburkannya apa yang dibacanya itu seperti menghamburkan kurma busuk.”

“Adalah kami para sahabat Nabi s.a.w. diberikan kepada kami iman sebelum Al-Qur’an. Dan akan datang sesudah kamu, suatu kaum yang diberikan Al-Qur’an sebelum iman. Mereka menegakkan huruf-huruf Al-Qur’an dan menyia-nyiakan batas-batas dan hak-hak dari Al-Qur’an, dengan mengatakan: ‘Kami sudah baca, siapakah yang lebih banyak membaca daripada kami? Kami sudah tahu, siapakah yang lebih tahu daripada kami?’ Maka begitulah nasib mereka.” (Ihya ‘Ulumiddin jilid I, h. 285 – 286.)

Nah Sahabats, bukankah beruntung seandainya kita termasuk yang Allah anugrahi iman yang dapat berguna demikian bagi kehidupan kita…

Oleh karena itu marilah kita senantiasa berjuang dan tak lupa memohon kepada Allah SWT agar kita dimasukkan sebagai hamba yang mukmin billah dengan Cahaya-Nya…

Wallahu a’lam bi shawwab.