oleh Wawan TBH
Sahabats…
Tulisan ini terutama saya tujukan kepada diri saya sendiri, sekedar pengingat bahwa sebuah Hikmah adalah berbeda dengan “Etalase” dari Hikmah itu sendiri.
Hikmah yang sumber asalnya adalah Al-Hakim, adalah sesuatu yang tidak mampu dicerap oleh indera jasmaniah kita (jasmani/jasad/raga kita adalah makhluk penghuni Alam Mulk/Syahadah), Sedang ‘etelase’ hikmah di sini yang saya maksudkan adalah segala bentuk wacana verbal, baik tulisan ataupun pembicaraan lisan, yang berkaitan dengan suatu hikmah.

Etalase Hikmah ini dapat berupa buku, artikel hikmah dari koran, tulisan renungan, bahkan apa pun produk dari internet, termasuk website dan blog ini.
Sahabats…
yang sangat kita perlukan dalam hidup ini adalah Hikmah dari Al-Hakim (Yang Maha Bijak, Maha Pembuat sekaligus Hukum). Dan hikmah hanya bisa Diaalirkan kepada bagian diri kita yang bukan penghuni alam Mulk. Apakah itu?
Bagian diri kita yang bukan jasmaniah/jasadiah adalah An-Nafs (Jiwa) dengan segala perangkatnya yaitu: Aql Jiwa (’aql), rasa Jiwa (Qalb). Jiwa dan perangkat2nya tersebut baru bisa aktif mencerap hikmah-Nya jika jiwa tidak terbelenggu oleh kekuatan hawa nafsu dan syahwat (kecintaan yang berlebihan pada hal2 material duniawi).
Nah.., hal ini yang seharusnya kita perjuangkan: Membebaskan An-Nafs (Jiwa) kita dari perbudakan hawa nafsu dan syahwat kita masing2.
Setuju?
Btw, walaupun tulisan ini (mungkin…) dapat menghubungkan dengan perolehan hikmah dari-Nya, tentu dengan seizin-Nya, tapi sebenarnya, tulisan ini hanyalah contoh dari sebuah ‘etalase’ hikmah…
Jadi, jangan sampai kita merasa mampu memperoleh hikmah hanya dengan browsing ke situs2 tashawuf, situs2 hikmah, dsb tanpa berusaha mendekat dan menjadi hamba-Nya yang Dia ridhoi..
Itu bagaikan, seorang yang hanya melihat-lihat sebuah durian di sebuah etalase toko buah, dan merasa bahwa dia telah merasakan rasa durian…
Wallahu a’lam bi shawwab

Siapakah sejatinya diri kita ini… yayaya… selalu mengaku ngaku bisa ini bisa itu ngerti ini ngerti itu… weleh weleeeeeh yayaya selama kerjanya masih mengaku ngaku masih merasa rasa sungguh zalimnya sang diri ini…. inilah syariatku… inilah amal ibadahku… inilah ilmuku… inilah aku aku aku yayaya aku akuan terus ciloko maaan…
hihihihi… ada satu ayat…
“Maka Nikmat TUHAN kamu yang manakah yang kamu dustakan?”….
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKU) sesungguhnya azabKU sangat pedih”
hmmmm… apasih nikmat TUHAN itu… ooo ternyata maujudnya meliputi yayaya meliputi seluruh kehidupan ini alam semesta dan isinya sekaligus sang diri ini yayaya diri ini meliputi yang lahir dari ujung kaki sampai ujung kepala dan yang bathin…. oooo ternyata semua yang maujud ini nikmat TUHAN ya??? kalau begitu apa yang di balik yang maujud itu hmmm…. yayaya DIA ya DIAlah dibalik semua ini…. terus kemanakah sang diri ini…. hmmmm… kok gak ada yaaaaa… yayaya aku ternyata tiada meliputi lahir dan bathin… hmmm…. kalau yang di aku aku dan dirasa rasa apa yaaaa…. hihihi…
Salam Sayang
Comment by kangBoed — Friday, April 17, 2009 @ 02:49
Mbah Wawan, kebanyakan pengunjung mall adalah para windows-shoppers - penikmat etalase. Mengapa demikian?
Golongan pertama adalah mereka yg memang tidak mempunyai bekal uang yg cukup untuk berbelanja di mall tsb. Belanja tak mampu, maka jalan2 sambil windows-shopping cukuplah.
Golongan kedua adalah mereka yg tidak mamepunyai tujuan atau peta rencana yg jelas. Terkadang mereka menghabiskan uangnya untuk barang2 yg sebenarnya tidak mereka butuhkan saat itu. mengabaikan yg sebenarya kebutuhan yg lebih urgent atau tepat pada waktu itu. Atau karena bingung saking banyaknya etalase yg mereka lihat, akhirnya mereka pulang tanpa belanja satu pun barang. Lebih apes lagi kalau uangnya mereka habiskan untuk makan minum yg kurang menyehatkan yg banyak ditawarkan di mall tsb.
Golongan ketiga sebenarnya sudah mempunyai rencana akan belanja barang atau barang2 apa saja. Akan tetapi mereka tidak punya referensi tentang seluk-beluk sekian banyak toko di komplek mall tsb. Paling sial mereka akan pulang dg tangan hampa karena bingung tidak bisa menjatuhkan pilihan dg cepat. Atau mereka membeli sesuatu dg harga yg terlalu mahal. Atau mereka barang yg salah atau kurang tepat untuk kebutuhan mereka saat itu.
Golongan keempat adalah yg paling siap. Mereka sudah tahu dan bahkan terkadang punya daftar kebutuhan belanja termasuk urutan prioritasnya. Mereka sudah memiliki informasi yg cukup tentang sebagian besar toko di mall tsb, mana yg barangnya bagus, mana yg cenderung lebih murah, mana yg harus dihindari. Mereka melihat-lihat banyak toko lain sekedar untuk memperluas wawasan yg mungkin berguna kelak kalau mereka kebetulan berbelanja di mall yg sama.
Karena saya menulis comment di blog seorang senior tashawuf, maka cukuplah beberapa ibarat di atas, tidak perlu diterjemahkan makna yg dimaksud secara “terlalu jelas”. Monggo Mbah Wawan meneruskan wacana ini secara lebih sistematis dan terarah.
salam,
- hp -
Comment by heru — Thursday, April 30, 2009 @ 05:57
Matur nuwun kunjungannya mas Heru yang tawadhu…
Memang yang paling enak kalo kita mau belanja di Mall dengan cara mengikuti langkah dan saran dari ‘pembelanja’ golongan empat-nya mas Heru…
Wallahu a’lam bi shawwab.
Comment by WawanTBH — Tuesday, May 12, 2009 @ 22:35
Kadangkala tarikan gemerlap dunia itu begitu kuat, ya Allah beri hamba kekuatan untuk terus berjuang, berjuang dan berjuang melawan hawa nafsu itu…
Comment by Yoni — Sunday, June 14, 2009 @ 07:52