Dunia adalah Persinggahan Sementara
Sahabats…
Tulisan ini saya kutip dari buku “The Big Secret, Mati dan Hidup setelah Mati” karya Syaikh Muzaffer Ozakh Al-Jerrahi, hal.137.
Kecerdasan yang dianugrahkan Allah SWT kepada kita hendaknya dipakai sebagai alat untuk merenungi Kebenaran Allah. Sepantasnyalah disadari bahwa kita sepenuhnya adalah ciptaan-Nya.
Langit, bintang, seluruh isi bumi, pegunungan, hutan dan datarannya, samudra dan sungai-sungai, semua tercipta berkat rahmat Allah. Setiap ciptaan-Nya memiliki kemuliaan.
Manusia datang dari Allah dan akan kembali ke Allah. Siklus kehidupan dan kematian ini haruslah kita resapi dalam-dalam.
Segalanya telah disiapkan surga, neraka, neraca amal, liang lahad, dan tentu saja kehidupan.
Allah berkata:”Wahai umat manusia, Aku telah menciptakan segala sesuatu untukmu, tetapi engkau mengubahnya dari-Ku.”

Kita hendaknya mengingat kisah Ibrahim bin Adham yang pernah menjadi Raja Khurasan. Suatu hari datanglah guru spiritualnya membawa serta untanya menuju istana.
Ibrahim bin Adham merasa terusik menyaksikan kafilah-kafilah masuk ke dalam istana. Dia berkata kepada pembimbing spiritualnya yang menyamar sebagai kepala kafilah:”Ini istana, bukan kedai umum atau tempat persinggahan.”
Pembimbing spiritualnya menjawab:”Oya…aku memandangnya sebagai tempat persinggahan.”
“Apakah engkau tidak mendengarkan penjelasanku? Aku memberitahumu bahwa ini adalah istana.”
“Engkau keliru.., istana hanyalah persinggahan. Dimanakah bapak dan kakekmu kini?”
“Keduanya telah meninggal dunia.”
“Nah, engkau lihat, mereka yang dahulunya bermukim di istana ini, pada akhirnya pergi. Suatu hari nanti engkau juga akan pergi. Apa yang akan kau bawa ketika kau nanti mati?”
Perkataan ini membuat Ibrahim bin Adham yang waktu itu sebagai Raja terpaku dan sadar bahwa kehidupan duniawi tidak ubahnya seperti persinggahan sementara.
Kemudian sang Raja tersebut ingin sekali mengubah takdirnya. Sampai akhirnya ia memilih jalan hidup sebagai seorang sufi dan menjadi Ibrahim bin Adham yang kita kenal.
Kalau saja ia masih mencintai istana duniawi, niscaya nama dan ketenarannya akan tiada dari sejarah kebanyakan. Kini nama Ibrahim bin Adham ra. terukir dalam hati manusia yang mengenalnya sebagai seorang sufi yang mulia di mata Allah. Bapak beliau seorang pembawa air yang juga sufi, dan ibunya adalah seorang putri mahkota raja, yang taat kepada Allah SWT.
Sahabats…
Semoga kita dapat merenungi kisah di atas, dan tidak terbuai oleh rutinitas kehidupan modern yang melalaikan….

masalahnya kita gak bisa lepas dari rutinitas ini, sampe2 bangunan masa depan diasumsikan melalui tindakan2 yg telah lalu, yg tak lain adalah rutinitas itu tadi.
Comment by kopi — Wednesday, March 25, 2009 @ 16:17
Kadang kangen membaca khotbah seorang kiyai Wawan
Comment by Budielyas — Wednesday, April 15, 2009 @ 18:31
Matur nuwun kunjungannya..smg bermanfaat…
Comment by WawanTBH — Wednesday, April 15, 2009 @ 23:28
Hik.. hik.. hik.. “Hidup hanyalah sekedar SENDA GURAU belaka”, mari kita bentangkan Panggung Sandiwara dan Sinetron sang diri hahahaha… dengan bermain penuh penghayatan… huaaaaaaaakakakak… dalam arahan sang Sutradara dan keinginan sang produser tanpa kita merasa memiliki peran tersebut… yayayaya… tanpa rasa memiliki… padahal sesungguhnya kita hanya sebagai peran sementara saja… yayaya… mungkin hanya keroco… tukang sapu sapu… tukang bersih bersih… office boy… haahahahaha….. karena ketika film selesai dibuat maka kembali… yaaa kembali keasal hahaha….
Salam Sayang Saudaraku…..
Comment by KangBoed — Tuesday, May 5, 2009 @ 22:58
Yg jadi masalah kalau orang2 dekat kita, keluarga misalnya, tidak sejalan dg kita. Masih menjadikan dunia sebagai perhiasan, sehingga timbul benturan2 atau malah kita sendiri yg akhirnya kembali terseret terpengaruh untuk ikut2an menikmati gemerlap dunia. Yah…itulah ujian hidup yg hrs dihadapi dg sabar, tawakal & ihlas plus istiqomah untuk tetap berada dijalan yg sdh kita tempuh skrg dg bimbingan Mursyid tercinta
Comment by Yoni — Sunday, June 14, 2009 @ 08:09
Mas Yoni.. agar tidak terbuai oleh tipu daya dunia dan isinya.. mari kita sering2 beristighfar dan selalu mohon bimbingan serta pertolongan-Nya..
Comment by WawanTBH — Monday, June 15, 2009 @ 13:25
Ass ww,
Formulanya mudah. Menurut seorang rekan dari eksak menyampaikan formula CINTA DUNIA = FUNGSI DARI KEDEKATAN DENGAN ALLAH, beliau menurunkan formula tsb –> Cinta-dunia = a x JARAK DENGAN ALLAH (a adalah tingkat kebutuhan insan terhadap dunia diasumsikan sama/ konstanta), maka CINTA-DUNIA ditentukan oleh ke-DEKATAN dengan Allah. Semakin JAUH maka CINTA-DUNIA nya akan semakin BESAR, dan bila semakin DEKAT maka akan semakin KECIL malah BISA MENDEKATI NOL.
Dengan kata lain CINTA-DUNIA merupakan sebuah indkator ke-QARIB-an dengan DIA.
Wass WW
Comment by hamba allah — Friday, June 26, 2009 @ 07:50