Monday, May 18, 2009 | 17:40
Renungan

oleh Wawan TBH

Sahabats…
hidup adalah perjuangan untuk mengenal-Nya
mengenal af’al-af’al (perbuatan-perbuatannya)-Nya, agar kita dapat menirunya dengan menghapus ‘Maha’-Nya
mengenal shifat-shifat-Nya, agar Dia berkenan melebur kita ke dalam shifat-Nya
mengenal asma-asma-Nya, agar kita fana dalam asma-Nya
mengenal nafs (jiwa) kita sebagai salah satu ciptaan-Nya yang sempurna
mengenal jasad (raga) kita sebagai pintu gerbang mengenal nafs kita
(selanjutnya…)

Saturday, May 16, 2009 | 14:41
Renungan

oleh Wawan TBH dan Tim Mentor Yayasan Islam Paramartha

Sahabats, mari kita renungkan sejenak pembahasan di seputar topik Ad-Diin—Shirat al-Mustaqiim—al-Haqq, yang dikaitkan dengan “jalan kembali” dalam rangkaian Syariat, Thariqat, Haqiqat, Ma’rifat.
Kita akan menggunakan ayat QS Thaahaa [20]: 82 untuk memulai pembahasan.

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap dalam petunjuk-Nya” (QS. 20:82)

Terlihatlah pada rangkaian istilah-istilah pada ayat tersebut bahwa bila kita ingin menjadi seorang yang “ahtada” (terpimpin, terpandu, terbimbing, tertunjuki), maka kita dituntut amal-shaleh, yang amal-shaleh itu haruslah kita lakukan dengan cahaya keimanan(nur iman) yang Allah al-Mu’min limpahkan kepada qalb kita, yang untuk memperolehnya kita mesti bertaubat sepenuhnya kepada Tuhan.

Terpimpin atau tertunjuki di sini yang kita maksud adalah sebagaimana yang senantiasa kita panjatkan dalam QS Al-Fathihah [1]: 6,

“Ihdinash Shirath al-Mustaqiim(..tunjukilah hamba kepada shirath al-mustaqim).” Sebagaimana juga rekaman ucapan Nabi Allah Ibrahim a.s. dalam QS Al-An’am[6]:161 berikut ini:

“Katakanlah: Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada Shirathim Mustaqiim, (yaitu) agama (=Ad-Diin) yang benar, millah Ibrahim yang hanif …” (QS Al-An’am [6] : 161).

Singkat kata, yang dimaksud dengan Shirath al-Mustaqiim itu adalah identik dengan Ad-Diin.
(selanjutnya…)

Tuesday, May 12, 2009 | 21:29
Renungan

oleh Wawan TBH

Suatu saat di sebuah majelis ilmu, Sang Guru dikerumuni oleh para santrinya.
Tiba-tiba salah seorang santri memecahkan keheningan suasana dengan bertanya:

Fulan : ” Wahai Guru, tolong nasihati saya tentang Dzikrullah, hati saya sedang melemah imannya, semoga dengan mendengar nasihat Guru, taufiq Allah SWT mendatangi saya….”

Guru : “Duhai anakku yang jujur, bersyukurlah engkau yang dikaruniai kejujuran…., sesungguhnya penjelasan tentang Dzikrullah, bisa singkat namun padat. Tetapi juga bisa panjang dan tetap padat kandungannya, yang manakah yang engkau minta?”

Fulan :” Kalau yang singkat?”

Guru : “Berkat dzikrullah-lah manusia yang sebenarnya tidak punyai eksistensi (keberadaan) menjadi punya keberadaan, walaupun pinjaman dari Allah SWT.”

Fulan :“Maksudnya?”
(selanjutnya…)