Sekali Lagi, Tentang Dzikrullah…
oleh Wawan TBH
Suatu saat di sebuah majelis ilmu, Sang Guru dikerumuni oleh para santrinya.
Tiba-tiba salah seorang santri memecahkan keheningan suasana dengan bertanya:
Fulan : ” Wahai Guru, tolong nasihati saya tentang Dzikrullah, hati saya sedang melemah imannya, semoga dengan mendengar nasihat Guru, taufiq Allah SWT mendatangi saya….”
Guru : “Duhai anakku yang jujur, bersyukurlah engkau yang dikaruniai kejujuran…., sesungguhnya penjelasan tentang Dzikrullah, bisa singkat namun padat. Tetapi juga bisa panjang dan tetap padat kandungannya, yang manakah yang engkau minta?”
Fulan :” Kalau yang singkat?”
Guru : “Berkat dzikrullah-lah manusia yang sebenarnya tidak punyai eksistensi (keberadaan) menjadi punya keberadaan, walaupun pinjaman dari Allah SWT.”

Fulan :“Maksudnya?”
Guru :“Dzikrullah itu membuat kita, mengakui adanya Allah Rabb semesta alam, perlahan-lahan pengakuan kita itu meningkat bahwa Dia-lah yang Menciptakan, sekaligus Yang Memelihara dan Mengatur jalannya kehidupan kita dan aneka rupa kehidupan di semesta alam ini…
Pengakuan itu juga sekaligus mengakui kelemahan diri kita, sebagai ciptaan yang tidak mempunyai daya dan kemampuan apa-apa selain yang dipinjami-Nya.”
Guru :“Dalam dzikrullah, kita berusaha melebur, sehingga Dia yang Maha Kasih berkenan menarik kita ke dalam Kuasa-Nya, ke dalam Af’al-Nya, ke dalam Shifat-Nya, ke dalam Asma’-Nya….”
Fulan :“Apakah kualitas dzikrullah setiap manusia itu sama, Guru?”
Guru :“Tentu tidak anakku… Sebagaimana kualitas keimanan dan ketaqwaan kita tidaklah sama, demikian pula kualitas dzikrullah kita juga berbeda-beda… Ini ada satu TIPs buat kita agar dapat meningkatkan kualitas dzikrullah kita, tips ini hanya salah satu tips dari berbagai cara untuk meningkatkan kualitas dzikr kita.. ”
Fulan :“Bagaimana itu Guru?”
Guru :”Pertama, hendaknya kita selalu menyadari dan jujur, bahwa kita ini ciptaan yang tak punya daya, sedang Allah adalah Pencipta yang Maha Memiliki segalanya dengan Sempurna..”
Guru :”Kedua, setelah itu mari kitarasakan, kenali, akui, setiap kekurangan, serta kesalahan/dosa kita, lalu laporkan kepada Dia dengan segenap kejujuran…dan yakinkan dalam diri kita bahwa Rahmaniyyah(Kasih sayang)-Nya, senantiasa mendahului Murkanya.”
Guru :”Ketiga, kita pasrahkan segala konskuensi dari perbuatan kita pada-Nya… hendaknya kita meyakini bahwa semua Balasan dari-Nya adalah semata-mata untuk kebaikan kita di Mata-Nya….”
Fulan :“Bagaimana dengan bacaan dzikr-nya Guru?”
Guru :“Setelah ketiga hal di atas kita penuhi, jika kita mampu dzikrullah dengan bahasa yang dicontohkan Rasulullah SAW (maksudnya dengan bahasa Arab), itu adalah yang terbaik, namun seandainya aspek bacaan/bahasa tsb akan mengurangi penghayatan kita, maka dengan bacaan/bahasa apa pun yang membuat kita khusyu’ tidaklah mengapa…Bukankah Allah Maha Mengetahui segala jenis bahasa?”
Fulan : “Dari tuntunan Rasulullah SAW, dzikr apakah yang paling afdhol(utama) untuk kita amalkan secara istiqomah?”
Guru :“Rasullah SAW menasihatkan:’Seutama-utamanya dzikr adalah pengakuan dengan sepenuh hati “LAA ILAHA ILLALLAHU”, sebuah pernyataan penolakan bahwa tidak ada yang kita ILAH-kan (kita per-Tuhankan, dalam istilah sekarang, kita prioritaskan, kita pentingkan, yang mengendalikan/mengatur diri kita, yang membuat kita takut) kecuali ALLAH..(dalam keseharian, maknanya segala perilaku dalam hidup kita hendaknya selalu dikaitkan dengan PENGABDIAN kepada Allah SWT.)…!!!”
Guru :“Kualitas penghayatan, pengamalan dari kalimat TAUHID/Tahlil tsb-lah yang membedakan kualitas keimanan kita di mata Allah SWT.”
Fulan :“Alhamdulillah Guru… setiap kalimat yang Guru ucapkan tadi bagaikan embun yang sejuk rasanya di shadr/dada saya…Mohon doanya Guru, agar saya mampu menyimpan di qalbu dan mengamalkannya…Jazakumullah khoiron katsiron….Alhamdulilllahi Robbil ‘alamin….”
Guru dan santri-santri lainnya : “Amien..Ya Rabbal alamin….”

hmm… sungguh indah dan nikmatnya… hidup dalam tarikan nafas Sang Maha Pengasih dan Penyayang…
Salam Sayang
Salam Kangen
Comment by KangBoed — Friday, May 22, 2009 @ 00:39
my friends
Comment by heru prasetyo — Saturday, May 23, 2009 @ 22:15
Pertama mohon maaf kepada Guru (atau yang di tokoh sebagai Guru) atas kelancangan ini.
Kedua bukan mau menggurui, karena kami bukan murid apalagi guru.
Dzikir lisan harus ditingkatkan dengan penghayatan/ pemahaman oleh qalbu. Berikutnya ditingkatkan ke dalam amal/aktivitas/perbuatan. Yang selanjutnya setiap aktifitas merupakan dzikir. Dengan mendawamkan ini maka DIA akan selalu bersama diri sesuai dengan hadits qudsi, AKU akan bersama hamba-KU bila dzikir padaKU.
Comment by hamba Allah — Friday, June 12, 2009 @ 19:51
Alhamdulillah…matur nuwun sahabat hamba Allah yg telah melengkapi bahasan ttg dzikrullah di atas…
Smg kita semua Allah tingkatkan kualitas dzikrullah kita, sbgmana yg sahabat utarakan…
Sekali lagi, jangan segan2 berbagi ilmu disini
Salam hormat…
Comment by WawanTBH — Saturday, June 13, 2009 @ 11:15