Tentang Ad-Diin Al-Islam: Sebuah Skema Perjalanan
oleh Wawan TBH dan Tim Mentor Yayasan Islam Paramartha

Sahabats, mari kita renungkan sejenak pembahasan di seputar topik Ad-Diin—Shirat al-Mustaqiim—al-Haqq, yang dikaitkan dengan “jalan kembali” dalam rangkaian Syariat, Thariqat, Haqiqat, Ma’rifat.
Kita akan menggunakan ayat QS Thaahaa [20]: 82 untuk memulai pembahasan.

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap dalam petunjuk-Nya” (QS. 20:82)
Terlihatlah pada rangkaian istilah-istilah pada ayat tersebut bahwa bila kita ingin menjadi seorang yang “ahtada” (terpimpin, terpandu, terbimbing, tertunjuki), maka kita dituntut amal-shaleh, yang amal-shaleh itu haruslah kita lakukan dengan cahaya keimanan(nur iman) yang Allah al-Mu’min limpahkan kepada qalb kita, yang untuk memperolehnya kita mesti bertaubat sepenuhnya kepada Tuhan.
Terpimpin atau tertunjuki di sini yang kita maksud adalah sebagaimana yang senantiasa kita panjatkan dalam QS Al-Fathihah [1]: 6,

“Ihdinash Shirath al-Mustaqiim(..tunjukilah hamba kepada shirath al-mustaqim).” Sebagaimana juga rekaman ucapan Nabi Allah Ibrahim a.s. dalam QS Al-An’am[6]:161 berikut ini:

“Katakanlah: Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada Shirathim Mustaqiim, (yaitu) agama (=Ad-Diin) yang benar, millah Ibrahim yang hanif …” (QS Al-An’am [6] : 161).
Singkat kata, yang dimaksud dengan Shirath al-Mustaqiim itu adalah identik dengan Ad-Diin.
(selanjutnya…)
