MAU HIDUP SULIT ATAU HIDUP SENANGKAH KITA?
oleh : Wawan TBH
Sahabats,
Bila kita dihadapkan dengan pertanyaan seperti di atas, kebanyakan kita tentu tidak akan ragu untuk menjawab, “ Jelas mau hidup senang !”, atau mungkin kita menjawab, “Kalau bisa hidup senang, kenapa mesti hidup dalam kesulitan?” Yach, itulah jawaban yang populer bagi zaman dewasa ini yang serba modern.
Pandangan hidup demikian nampaknya di zaman sekarang, lebih populer bagi kita. Tayangan iklan di media cetak dan elektronik juga lebih menyajikan dan memupuk hasrat kita untuk membuat hidup kita senang. Adakah yang aneh demikian pandangan tersebut?
Namun, marilah kita sejenak merenungkan data dan informasi berikut ini:
• Seorang pelajar yang berhasil adalah rajin belajar dan pandai mengendalikan waktunya hanya dipergunakan mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan statusnya sebagai penuntut ilmu. Artinya dengan sadar, pelajar itu menyengaja dalam rentang waktu tertentu dia mempersulit hidupnya.
![]()
• Seorang atlit secara disiplin selalu menjaga kondisi tubuh dan melatihnya dengan serius untuk memperoleh prestasi. Dia persulit hidupnya dengan sengaja karena dia sadar dengan pilihan hidupnya sebagai atlit.
• Demikian juga seorang pengusaha, di awal usahanya dia hidup berhemat dan menabung padahal sebagian besar teman-temannya membelanjakan uangnya untuk hidupnya. Dia persulit hidupnya dengan sebuah kesadaran bahwa mempersulit hidupnya itu akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik di masa depannya.
• Orang mukmin dengan tulus dan ridho mentaati hukum Allah meskipun hukum itu mengekang beberapa atau bahkan sebagian besar keinginan-keinginannya.
Allah pun memberi ilustrasi tentang dinamika hidup kita sebagai berikut:
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadam? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. “(QS. Alam Nasyrah 94: 1-8)
Dia ciptakan kesulitan dan kemudahan dalam hidup itu silih berganti agar dalam menyikapi kehidupan, kita senantiasa mengembangkan diri, agar dapat mengenali Allah, sebagai Sutradara dan Produser kehidupan di semesta ini.
Dalam skenario Allah, Dia jadikan kesusahan lebih efektif menjadi sarana kesadaran kita dari pada kemudahan. Kita yang ditimpa kesusahan bila kemudian mampu bersabar, maka akan memperoleh kesadaran yang lebih tinggi dari pada yang mengalami kemudahan hidup.
Semakin jauh visi/pandangan hidup kita maka semakin kuatlah kita ‘menyengaja’ mempersusah hidup kita, demi memperoleh kesadaran-kesadaran hidup yang lebih bermakna. Dan hal itu kita lakukan dalam rangka meneladani penyikapan hidup para Nabi dan kekasih Allah, sebab dari diri beliau-beliau itulah Allah mengalirkan kesadaran hikmah dan hakikat kehidupan ini.
Sudah bukan rahasia bagi kita, bahwa Musa muda yang pangeran Mesir itu dicetak menjadi seorang Nabi dan Rasul Allah dengan cara Allah ubah takdirnya menjadi orang yang lebih susah hidupnya terlebih dahulu. Begitu juga kehidupan kerajaan seorang Ibrahim bid Adham, yang berubah seratus delapan puluh derajat sebelum beliau Allah jadikan kekasih-Nya yang sarat dengan mutiara hikmah dalam fase akhir kehidupannya.
Nah, setelah memperhatikan hal-hal di atas, masihkah kita punya jawaban yang sama atas pertanyaan awal kita? []
Wallahu a’lam bi shawwab.
Sumber Gambar:
http://ts2.mm.bing.net/

yaa…saya sepakat,seorang teman pernah mengatakan hal yang sama : hanya dengan ‘kesulitan (kesusahan) ato rasa gak enak’ kita bisa ‘lebih’ dekat sama Allah.
Comment by ariyuli — Tuesday, October 27, 2009 @ 10:53
tapi jika kita jadikan Allah sebagai pelarian dari kesulitan hidup kita, masihkah itu disebut ibadah?
ralat sedikit, ada sedikit kesalahan pengetikan dalam posting anda ini :)
Comment by David — Friday, October 30, 2009 @ 03:02
@Ariyuli:Makasih kunjungannya dan salam kenal..
@ David:Makasih Mas David atas kunjungannya, juga koreksinya.
Tentang menjadikan Allah sbg pelarian dari kesulitan hidup kita, kalo itu didasari atas kesadaran bahwa hanya Dia-lah satu2nya penyelesai masalah yg paling sempurna, itu adalah suatu bentuk pengabdian (ibadah).
Tapi, jika pelarian itu karena keputus-asaan kita, yach tentu ini bukan suatu ibadah.
Comment by WawanTBH — Saturday, October 31, 2009 @ 07:52
asmlkm,salam knal..hidup sulit ataupun mudah patutnya kt pndng sbagai suatu cobaan,,saat sulit kt wjb brsbr,saat senang wjbnya kt syukuri,apapun keadaannya kt pasrahkan smua kpda Allah.nmn kt jg hrs beriktiar mmperoleh kemudahan/kebahagiaan.
Comment by Heri Setiawan — Monday, November 9, 2009 @ 21:17