oleh : Wawan TBH

Suatu sore di Padepokan Kehidupan, Sang Guru Bijak Bestari sedang bercengkrama dengan santri-santrinya, tiba-tiba salah seoang santri mengajukan pertanyaan,

Santri: Guru, Apa konsekuensi dari kesadaran kita tentang Struktur Insan?

Guru: Pertanyaan yang bagus anakku, memang kita sebagai makhluk yang paling berpotensi menjadi makhluk termulia, segala perilaku kita tergantung dari kesadaran. Nah, kesadaran tentang Struktur kita sebagai Insan ciptaan Allah, serta dengan tujuan apa Allah menciptakan kita akan menjadi visi dan melandasi aktivitas hidup kita.

Anakku, Allah menciptakan kita sebagai makhluk multi dimensi, lahir maupun batin. Dalam diri kita ini Allah tempatkan penghuni alam Jabarut yaitu ruh, nafs sebagai penghuni alam Malakut, serta jasad dari alam Mulk.Baik ruh, nafs, maupun jasad masing-masing dengan seluruh perangkat aspeknya. Sebagai makhluk multialam, seandainya kita hidup sesuai dengan Kehendak-Nya, Insya Allah Dia Ta’ala juga memberikan kemampuan komunikasi lintas alam-alam tersebut.

Santri: Apakah ketiga alam tersebut setara ataukah memiliki perbedaan?

Guru: Allah yang Maha Sempurna Penciptaan-Nya telah menentukan kesempurnaan ketiga alam itu tidak sama.
Alam Jabarut yang tertinggi, kemudian alam Malakut, baru alam Mulk. Hal ini berkonsekuensi untuk optimalisasi potensinya ketiga makhluk alam-alam ini dalam diri kita juga memiliki tingkat kesulitan yang tidak sama.
Yang paling susah tentu memunculkan aspek tertinggi ruh kita, Ruh Al-Quds. Berikutnya aspek Nafs Muthmainnah yang merupakan tertinggi dari nafs. Sedangkan manusia jasad dengan fisik, otak dan perasaan yang paling optimal merupakan tingkat termudah, dalam konteks diperbandingkan di antara ketiga alam di atas.

Santri: Apakah setiap manusia memiliki hak yang sama untuk mengembangkan potensi dirinya, sehingga penghuni ketiga alam di atas optimal dalam dirinya?

Guru: Tentu Anakku..! Setiap kita mempunyai hak yang sama untuk mengembangkan diri… Al-Quran menetapkan satu kata untuk menyebutkan kesempurnaan dan kemuliaan kita, yaitu Takwa. Subhanallah ! Dan kita semua diperintahkan untuk meraih ketakwaan tersebut.
Dalam kalimat Takwa terkandung hal-hal tentang pengembangan jasad, nafs, serta ruh hingga mencapai aspek-aspek tertingginya. Dan setiap kita akan diminta pertanggung-jawaban atas nilai ketakwaan kita masing-masing secara unik.

Bahkan Allah menciptakan kita dengan desain memiliki TUGAS/MISI HIDUP masing-masing, dan Dia akan minta tanggung-jawab kita atas penunaian misi individual kita tersebut.
MISI/TUGAS HIDUP tersebut akan mengarahkan kita kepada pencapaian ketakwaan tertinggi yang dapat kita capai masing-masing. Karena urusan ini dapat mengantarkan kita pada hahikat kemanusiaan tertinggi yang dapat kita capai, tentu saja ia merupakan sesuatu yang sangat sulit. Jadi harus kita persiapkan betul dalam kehidupan kita.

Setiap kita hendaknya mencari bekal hidup yang cukup untuk menunaikan misi hidup yang Allah desainkan buat kita tersebut. Bekal itu adalah ilmu, optimalnya jasad, kesucian nafs dari penyakit-penyakit qalbu. Semua itu harus kita upayakan setahap demi setahap bila kita menggapai ridho-Nya.

Santri: Apa pengaruh kesadaran kita sebagai makhluk multi alam tersebut?

Guru:Jika kita sadar bahwa kita Allah ciptakan sebagai makhluk multi alam, maka kita hendaknya tidak hanya mengikatkan diri secara berlebihan pada alam jasad/Mulk saja atau salah satu alam saja, apa lagi alam Mulk adalah alam yang paling pendek umurnya, paling terbatas jangkauannya, paling rendah tingkat manifestasi Ilahiyyahnya. Kita tidak akan terlalu mendewa-dewakan fisik, materi, kehormatan di mata makhluk, tetapi kita juga harus berusaha mengembangkan aspek malakuti serta ruhiyah kita.
Nah, hal itu akan berpengaruh dalam segala aspek kehidupan kita. Mulai dari rumusan kebenaran, kebahagiaan, pendidikan, keluarga, menentukan pekerjaan, dsb.

Contoh, Dengan kesadaran Struktur Insan yang baik dalam mendidik anak,kita akan memperhatikan tidak hanya faktor kesehatan badan (organ tubuh, otak, emosi,dll.), tetapi juga kesucian jiwa/nafs sang anak dengan segala hal yang dapat mempengaruhinya. Tentu hal ini akan menyebabkan persiapan dan bekal yang kita perlukan untuk mendidik anak kita tentu lebih banyak. Dan jika itu kita lakukan dengan optimal maka Allah pun akan memberikan hasil yang lebih baik bagi sang anak tersebut.

Kita tidak hanya memberikan asupan makanan yang sehat, juga terapi kesehatan yang optimal, ruang psikis yang kondusif untuk anak-anak kita, selain itu anak-anak kita akan kita interaksikan anak-anak kita dengan orang-orang shalih yang mempunyai kesucian batin dan jiwa, agar jiwa/nafs sang anak terbawa kesuciannya.

Meskipun demikian kita pun hendaknya tetap menyediakan ruang bagi ‘skenario’ tak terduga yang Allah mainkan dalam takdir kita dan anak kita tersebut, karena kewajiban dan kemampuan kita hanyalah sebatas mengikhtiarkan, sedangkan hasilnya Allah-lah yang menentukan.

Demikanlah contoh kesadaran Struktur Insan yang teraplikasikan dalam salah satu aspek kehidupan kita anak-anakku, singkatnya, kalau kesadaran itu sedikit demi sedikit kita amalkan dalam berbagai aspek kehidupan kita, maka diri kita pasti Allah kembangkan ke arah yang Dia Kehendaki. Wallahu a’lam.
Bagaimana? Bisa kalianpahami Anak-anakku?

Santri: Iya Guru, meskipun belum sepenuhnya kami paham, tapi akan coba kami cerna pelan-pelan, terima kasih atas penjelasannya…

Guru: Betul anakku, semua ilmu hendaknya dicerna dengan pelan-pelan.. Bila kalian nanti sudah memahami penerapannya dalam mendidik anak, mudah-mudahn kalian Allah mudahkan pula untuk mengembangkan penerapannya dalam aspek-aspek lainnya dalam kehidupan..
Semoga Allah Al-‘Ilmu membimbing kita untuk memahami dan mengamalkannya…amiin.

Sumber Gambar:
http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Wayang/contents/dewaruci.jpg