Thursday, November 26, 2009 | 10:36
Renungan

oleh : Wawan TBH

Sahabtas…
mempertanyakan segala sesuatu tentang hidup dan kehidupan kita sendiri memang tiada habisnya, dan selalu memberi inspirasi baru..
Coretan di bawah ini adalah salah satunya…

Mengapa kita hidup?
Kita hidup karena Dia Yang Maha Hidup menghendaki kita hidup.

Mengapa kita Diahidupkan?
Kita Dia hidupkan untuk dapat mengenal-Nya.

Dengan perantaraan apakah kita mampu mengenal-Nya?
Dengan instrumen batin dan lahir yang tercahayai oleh-Nya.
Melalui interaksi dengan makhluk-makhluk-Nya.
Dengan bantuan Cahaya-Nya kita baru bisa mengenal-Nya.

Untuk manfaat apakah kita mengenal-Nya?
Agar dapat memperoleh ilmu sejati.
Agar dapat menemukan kebenaran sejati.
Agar dapat menemukan hikmah sejati.
Agar dapat merasakan kebahagiaan sejati.
Agar dapat menyelami cinta sejati.
Agar dapat mewujudkan kepribadian sejati.
Agar dapat membangun tatanan masyarakat kemanusiaan sejati.

Mengapa kita harus menemukan KESEJATIAN dalam kehidupan ini?
Karena KESEJATIAN itu representasi dari Dia, sejauh yang mampu kita cerap.
Karena hanya dengan KESEJATIAN, kita dapat menjadi ciptaan sesuai dengan Tujuan Penciptaannya.
Karena hanya dengan KESEJATIAN kita baru disebut manusia oleh Dia, Sang Pencipta.

Wallahu a’lam bi shawwab.

sumber gambar:
http://www.bing.com/images/search?q=baratayuda#focal=8d4b76900fbc49e15b61eae413292f13&furl=http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2009/08/wayang_pandawa11.jpg

Thursday, November 19, 2009 | 13:08
Al-Quran | Hadist Tashawwuf | Renungan

oleh : Wawan TBH

Sahabats…
Pembahasan tentang takdir (qodho dan qodar) adalah sangat penting untuk membekali kita menjalani kehidupan ini. Kematangan kita dalam hidup ini sangat dipengaruhi oleh kesempurnaan keimanan kita terhadap takdir yang merupakan rukun ke-6 dari Rukun Iman.
Kami meyakini bahwa terdapat tahapan yang saling berkaitan dalam rukun-rukun dalam Rukun Iman tersebut.

Kesempurnaan iman kita terhadap Allah akan menentukan keimanan kita terhadap Malaikat-malaikat-Nya. Kesempurnaan iman kita terhadap Malaikat-Nya akan menentukan keimanan kita terhadap Kitab-kitab Suci-Nya. Kesempurnaan terhadap Kitab Suci-Nya menentukan kesempurnaan keimanan kita terhadap Para Rasul-Nya. Kesempurnaan keimanan kita terhadap Para Rasul-Nya menentukan kesempurnaan keimanan kita terhadap Hari Akhir-Nya. Dan kesempurnaan keimanan kita terhadap Hari Akhir-Nya menentukan keimanan kita terhadap Qodho dan Qodar-Nya (Takdir Allah)

Mengingat urutan tahapan di atas, kita tahu betapa kompleksnya persyaratan kesempurnaan iman kita terhadap takdir. Hal ini memerlukan mantapnya keimanan kita terhadap ke lima rukun sebelumnya dalam Rukun Iman.
(selanjutnya…)

Saturday, November 14, 2009 | 14:01
Nasihat | Renungan

Sahabats…

Setelah pada osting sebelumnya kami copykan biografi Syekh Al-Akbar Muhyiddin Ibnu Al-Arabi, kali ini kami mengetik ulang sebuah wasiat beliau untuk kita renungkan, semoga bermanfaat.
Kami mengetik ulang dari Buku Wasiat-Wasiat Ibnu ‘Arabi (terjemahan dari Al-Washaya li Ibnu al-’Arabi oleh Irwan Kurniawan) terbitan Penerbit PUSTAKA HIDAYAH Bandung, cetakan ke-2 tahun 1997.

*****)(*****

Tuhan berwasiat, demikian pula para utusan Tuhan.
Karenanya, meneladani mereka adalah sebaik-baik perbuatan.

Andai tiada wasiat, makhluk berkubang dalam kegelapan.
Dengan wasiat, raja kekal dalam kekuasaan.

Lakukanlah, jalan itu jangan kau tinggalkan.
Wasiat adalah hukum Allah dalam keazalian.
(selanjutnya…)

Friday, November 6, 2009 | 10:06
Tashawwuf Dalam Kehidupan Kita | Renungan

oleh : Wawan TBH

Pembicaraan tentang lebih dulu mana antara doa dan ikhtiar seorang manusia dalam kehidupannya menjadi topik yang hangat di kalangan santri di Padepokan Tashawwuf, sehingga ketika ada suatu kesempatan bercengkrama dengan Sang Guru Bijak Bestari, salah seorang santri menanyakannya kepada Sang Guru.

Santri: Guru, dalam menghadapi suatu masalah, manakah sikap yang sebaiknya kita ambil, berikhtiar dulu semampu kita lalu menyempurnakannya dengan berdoa? Ataukah Berdoa dulu dengan keyakinan kemudian dilanjutkan dengan ikhtiar kita?

Guru:Pertanyaan yang bagus anakku… Memang dalam sejarah hidup manusia, pertanyaan itu senantiasa muncul di kalangan umat, namun ketika seseorang sudah mencapai kesempurnaan dalam hikmah kehidupan, niscaya dia akan mengerti tentang persoalan tersebut dengan segala variasinya.
Anakku, sebenarnya kedua sikap itu sama-sama benar, hanya saja masing-masing memiliki sebab dan kondisi yang berbeda yang Allah paksakan supaya kita melakukan itu.

Ketika kita berada pada kondisi kesadaran bahwa kemampuan kita ini yang merupakan ‘pinjaman serta titipan’ dari Kemampuan Allah yang hendaknya kita gunakan secara optimal untuk menyelesaikan permasalahan kita, maka kita akan bersikap mengupayakan ikhtiar dulu secara optimal, baru setelah itu menyempurnakannya dengan doa. Kita saat itu menyadari bahwa sempurnanya doa kita memerlukan syarat ikhtiar dulu. Maka kita akan berusaha sekuat tenaga kita untuk berikhtiar dulu baru kemudian berdoa.

Sementara pada kondisi yang lain, ketika pengenalan kita terhadap Allah yang melingkupi semua aspek Af’al (Perbuatan-perbuatan), Asma (Nama-nama), Shifat (Sifat) serta Dzat-Nya sedang menguat sedemikian sehingga menyebabkan kita menyadari dan meyakini bahwa ternyata Wujud Dia-lah satu-satunya sumber dari segala daya dan kemampuan di semesta alam ini, termasuk kemampuan kita awalnya berasal dari pelimpahan Kemampuan dari-Nya, maka sebuah doa yang kita lantunkan dengan keyakinan tinggi, merupakan awal dari ikhtiar kita dalam kehidupan.

Di sini, sempurnanya doa kita bersumber dari kesadaran akan posisi kita sebagai ciptaan yang lemah tanpa daya, berhadapan dengan Dia Sang Pencipta yang Maha Rahman, Pemelihara yang sempurna.

Santri: Lalu bagaimana caranya kita bisa mengetahui kita sedang berada pada kondisi yang mana dari kedua hal di atas Guru?
(selanjutnya…)

Tuesday, October 27, 2009 | 16:18
Renungan

oleh : Wawan TBH

Suatu sore di Padepokan Kehidupan, Sang Guru Bijak Bestari sedang bercengkrama dengan santri-santrinya, tiba-tiba salah seoang santri mengajukan pertanyaan,

Santri: Guru, Apa konsekuensi dari kesadaran kita tentang Struktur Insan?

Guru: Pertanyaan yang bagus anakku, memang kita sebagai makhluk yang paling berpotensi menjadi makhluk termulia, segala perilaku kita tergantung dari kesadaran. Nah, kesadaran tentang Struktur kita sebagai Insan ciptaan Allah, serta dengan tujuan apa Allah menciptakan kita akan menjadi visi dan melandasi aktivitas hidup kita.

Anakku, Allah menciptakan kita sebagai makhluk multi dimensi, lahir maupun batin. Dalam diri kita ini Allah tempatkan penghuni alam Jabarut yaitu ruh, nafs sebagai penghuni alam Malakut, serta jasad dari alam Mulk.Baik ruh, nafs, maupun jasad masing-masing dengan seluruh perangkat aspeknya. Sebagai makhluk multialam, seandainya kita hidup sesuai dengan Kehendak-Nya, Insya Allah Dia Ta’ala juga memberikan kemampuan komunikasi lintas alam-alam tersebut.

Santri: Apakah ketiga alam tersebut setara ataukah memiliki perbedaan?
(selanjutnya…)