Tuesday, June 10, 2008 | 09:09
Nasihat | Tashawwuf Dalam Kehidupan Kita | Renungan | Tips & saran | Susastra

oleh Wawan TBH

Dalam suatu pengajian tashawwuf, Guru Bijakbestari sedang melakukan dialog dengan salah seorang muridnya tentang kesempurnaan shalat.

Murid: Kemarin Guru telah menguraikan secara jelas tentang keutamaan shalat sebagai suatu ibadah penghubung antara seorang abdi/hamba dengan Rabb-nya, dan rasanya saya cukup memahaminya. Sekarang mohon engkau jelaskan apakah perbedaan melaksanakan shalat dengan menegakkan shalat?

Guru: Melaksanakan shalat artinya kita mengerjakan shalat sesuai dengan syarat-syarat sahnya shalat sesuai yang diatur dalam fiqih(syariat lahir). Sedangkan menegakkan shalat, selain melaksanakan shalat kita menyempurnakannya dengan adab-adab2 batiniah shalat.

Murid:Bagaimana caranya agar kami dapat memprioritaskan penegakan shalat di atas kegiatan harian lainnya (seperti: bekerja di kantor, kegiatan di keluarga, di masyarakat, proyek-proyek bisnis, meeting dengan atasan, dsb.)?

Guru: Baiklah Anakku, ini sebuah pertanyaan yang penting. Shalat adalah sebuah ibadah yang pelaksanaan jasadiahnya mudah dikerjakan. Namun, keutamaan shalat dan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya baru dapat kita raih bila kita selain mengerjakan teknis jasadiahnya(sah secara fiqih), juga menyempurnakan dengan adab/etika secara pikiran maupun qalbu (adab batiniah).

Untuk dapat memprioritaskan shalat di atas segala kegiatan sehari-hari, pertama, kita perlu menjaga aqidah, yaitu dalam pikiran dan qalbu kita harus tetap dijaga bahwa urusan yang berkaitan langsung dengan Allah, seperti shalat adalah urusan yang secara hakiki –kalau kita mengerti- merupakan urusan paling menentukan kualitas ibadah/pengabdian kita kepada AllahSWT.
(selanjutnya…)

Monday, June 2, 2008 | 16:21
Susastra

oleh : Wawan TBH

Dalam sebuah pengajian yang disampaikan oleh seorang ulama tashawwuf di hadapan jama’ahnya terjadilah peristiwa ‘kecil’ yang menunjukkan ‘kedalaman lautan hikmah’ salah seorang jama’ah.

Ketika suasana sedang khidmat dan hening, tiba-tiba terdengar nada sambung dengan bunyi yang cukup nyaring dari handphone salah seorang hadirin yang bernama Tunasiaga. Rupanya si Tunasiaga khilap belum mematikan hp-nya sebelum memasuki ruangan pengajian, padahal di setiap sudut ruangan terpampang poster “DEMI KHUSYUKNYA PENGAJIAN, SILAKAN MEMATIKAN HP ANDA, TERIMA KASIH”.

Jantung Tunasiaga kontan berdegup kencang, wajahnya memerah menahan malu, keringat dingin menetes di wajahnya. Suasana ruangan beraneka ragam, sebagian besar hadirin meski tidak berkomentar, tetapi menunjukkan raut muka yang tidak suka. Sang Ulama terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

Tiba-tiba dari tempat 2 atau 3 orang yang duduk di samping Tunasiaga, terdengar suara, “Mohon maaf sahabat-sahabat, saya lupa mematikan hp sebelum memasuki ruangan tadi, sekali lagi mohon maaf….” Ternyata yang berbicara adalah Beninghatisambilmemegang hp-nya seolah-olah sedang mematikannya. Beninghati adalah orang yang selama ini kurang disukai oleh Tunasiaga.

Demi mendengar dan melihat siapa yang berbicara tersebut, maka ketidak-sukaan hadirin bagai mendapat penyaluran yang jelas, siapa biang keladinya. Kontan seluruh sorot matatajam terarah kepada Beninghati yang menunjukkan sikap bersalah.

Sang Ulama yang tahu ‘apa yang terjadi’ terus melanjutkan ceramahnya sambil tersenyum bahagia. Beliau mengetahui kemuliaan seorang Beninghati yang sehari-hari rajin hadir dalam kajian-kajian beliau.

Monday, April 28, 2008 | 06:38
Susastra

Oleh : Wawan TBH

Hanya aku dan Allah
disamping selainku yang bukan Allah
mereka semua adalah cermin diriku untuk menyaksikan Kesempurnaan Allah
orang tuaku, guruku, para pendahuluku
anak-isteri dan keluargaku
sahabat-sahabatku
orang-orang, makhluk selainku
rumah, uang, harta yang Diatitipkan kepadaku
merupakan sekeping cermin yang menampakkan keadaan diriku
yang nampak di cermin sesungguhnya keadaan diriku
(selanjutnya…)

Tuesday, April 22, 2008 | 07:07
Susastra

oleh : Wawan TBH

Hidup dalam kematian, untuk memperoleh Mati dalam kehidupan
Gagal dalam keberhasilan, agar tercapai Berhasil dalam kegagalan
Menggunakan qalbu dalam akal, untuk mencapai akal dalam qalbu
Bodoh dalam Kepiawaian, agar Piawai dalam kebodohan

Ber-Dien dalam kemasyarakatan, untuk mampu Bermasyarakat dalam Ad-Dien
Berhijab dalam kejelasan, agar dapat Menampakkan dalam Keterhijaban
Berkeinginan dalam Hasrat yang Nihil, untuk mencapai Hasrat yang Nihil dalam beragam keinginan

Oo… berbahagialah dikau yang telah berseru,
Al-Jam’u bayna Al-Farqu (Penyatuan antara dua hal yang Bertentangan)
Huwa Al-Awwalu wa Huwa Al-Akhiru (Dialah Yang Paling Awal sekaligus Yang Paling Akhir)
Huwa Al-Dzahir wa Huwa Al-Batin (Dialah Yang Maha Lahir sekaligus Yang Maha Batin)
….
Wallahu a’lam bi shawwab